Selasa, 10 Februari 2015

Nazisme dan Narsisme, Mana Lebih Kejam?

Siapa yang tidak kenal lambang diatas? Bagi yang masih tidak mengenal gambar diatas maka ya sudahlah. Lambang ini adalah lambang Nazi (Nationalsozialistische Deutsche Arbeiterpartei) yang berdiri sejak 1933 dan berhasil menjadi momok menakutkan pada dunia abad-20 saat Perang Dunia kedua. Kekejaman dan bagaimana cara paham fasisme ini menginvasi dunia tidak diragukan lagi. Tetapi ada satu pertanyaan yang cukup menjengkelkan di benak saya, apakah yang lebih kejam dari Nazisme? Apakah yang lebih mengerikan dan masih berlaku di jaman ini?

Mungkin saya sudah berhasil mendapat jawaban ketika saya melihat teman saya berfoto di kelas. Iya, betul sekali, saya tidak salah ketik. Nazisme hanya bertahan sekitar 12 tahun dan runtuh ditangan sekutu. Tetapi bagaimana dengan Narsisme? Paham yang bahkan tidak ada hubungan langsung dengan politik ini ternyata lebih mengerikan daripada Nazisme. Kenapa bisa begitu? Mari kita cek lebih lanjut.
Ini adalah foto sang Führer bersama dengan pasukannya (en.wikipedia.org)
Salah satu gejala penyakit psikologis Narsisme (blog.unbits.com)

Apa yang berbeda dari kedua foto diatas? Ya, foto di atas memang berbeda karena beda foto (ya iyalah). Tetapi terdapat hubungan yang tidak kasat mata antara Nazisme dan Narsisme karena mereka sama-sama memang "kejam". Kenapa kejam?

Bila Nazisme lebih menyerang kepada kemanusiaan maka Narsisme lebih menyerang kepada psikologis. Bagi anda yang belum tahu definisi asli dari Narsisme, maka silahkan simak dibawah berikut.

Narsisisme atau Narsisme adalah sebuah penyakit psikologis dimana sang penderita sangat mencintai diri sendiri. Setiap hal yang berwujud dirinya akan dia sukai dan dia lakukan seperti bercermin dan berfoto ria. Sebenarnya, Narsisme adalah sifat asli manusia tetapi dapat diredam seiring laju usia. Anda yang terlalu sering "narsis" maka Anda bisa terkena penyakit psikologis ini. Penyakit psikologis ini sangat kejam, terbukti bagaimana kejamnya ia menghabiskan data dan memori di perangkat smartphone dan membuat server di dunia bertambah file gambar setiap harinya membuat para penyedia server harus mengeluarkan duit yang cukup banyak untuk menyeimbangkan laju data yang masuk setiap harinya, belum lagi tekanan psikologis apabila hasil foto yang didapat jelek dan menyebabkan depresi. Kenapa? Karena berfoto adalah gejala narsisme itu sendiri.

Nazisme dan Narsisme adalah saudara yang beroperasi dalam dimensi waktu dan lingkup waktu yang berbeda. Bila Nazisme menyerang sisi kemanusiaan maka Narsisme menyerang lebih dari kemanusiaan yakni psikologi, dasar dari segala bentuk kemanusiaan.

Korban yang mengidap narsisme mempunyai gejala sebagai berikut:

  1. Menganggap dirinya tampan dan cantik setiap harinya.
  2. Terlalu percaya diri.
  3. Ingin selalu berfoto agar wajahnya tetap abadi dalam bentuk foto.
  4. Sombong dan selalu ingin pujian.
  5. Marah apabila tidak dihargai.
  6. Bertingkah ekstrim saat dirinya diabaikan.
Narsisme juga bisa menyebabkan seseorang sampai mencari perhatian yang lebih ekstrim seperti merampok bank, membunuh orang, terjun dari ketinggian, semua akan dilakukan sampai dia mendapat perhatian. Parah, bukan? Jikalau begitu pertanyaannya ialah, remaja di dunia sudah banyak dan selalu bertambah tiap harinya, remaja memiliki emosi yang labil yang membuatnya mendapat kemungkinan besar untuk mengidap Narsisme, bila remaja rata-rata mengidap narsisme, apa yang terjadi? Jawabannya bisa anda lihat di dunia internet yang luas ini. Gejala narsisme sudah banyak tampak dan takutnya beberapa tahun ke depan sudah banyak remaja yang rela melakukan hal ekstrim demi "mencintai" dirinya sendiri. Mengerikan, bukan?

Intinya dari artikel ini, Narsisme adalah sebuah penyakit psikologis yang susah disembuhkan dan sering menyerang para remaja yang emosinya masih labil. Saran saya, anda boleh saja berfoto ria tetapi jangan berlebihan, berfoto lah saat perlu dan jangan terlalu sering percaya diri (ada waktunya kok) agar anda tidak mengidap penyakit serius ini. Di negara maju sudah banyak kasusnya lho.

Sekian dari artikel saya kali ini, Nazisme sudah hilang dari dunia dan telah menjadi bagian dari sejarah. Sementara itu, Narsisme masih ada sampai sekarang dan telah menjadi gaya hidup. Ini adalah bukti bahwa sang Führer juga pernah ber-narsis di Paris, kota idaman para remaja dunia.

2 komentar:

Christian Dwi Wijaya mengatakan...

untung aja ane gak narsis. Tapi yang biasanya narsis itu cewek, sekalipun cowok pasti cowoknya agak kecewek2an :v

Daniel Lim mengatakan...

Betul sekali hehehe :v

Contact Us

Nama

Email *

Pesan *

Jangan Lupa Kalo Memang Suka Like Aja !!!

×

Powered By CLUSM and Skyzone GC

Tentang CLUSM

Blog CLUSM menyediakan informasi terbaik untuk Anda. Ingin lebih dekat dengan CLUSM? Silahkan kirimkan pesan Anda di Facebook CLUSM.
Designed By Blogger Templates