Jumat, 28 Februari 2014

Perbedaan Orde Baru dan Orde Reformasi


Sekitar tahun 1965-1999, Indonesia memasuki suatu jaman yang dinamakan sebagai orde baru yang dipimpin oleh Presiden Soeharto dengan partainya, Golkar. Tetapi semenjak diberlakukannya reformasi saat tahun 1999, orde baru tumbang dan disusul orde reformasi.

Banyak orang berkata bahwasannya orde baru lebih baik daripada sekarang tetapi banyak juga orang yang berkata orde sekarang lebih baik. Nah, untuk menghilangkan segala perselisihan, ada baiknya kita melihat perbedaan kedua orde tersebut.

Berikut  Perbedaan Orde Baru dan Orde Reformasi yang dikutip dari thread di Kaskus yang ber-tskan Juru.Tulis 

DULU, mi instant harganya 100 perak. Tapi gaji bokap lo cuma 200rb per bulan. Kalo bokap lo penghasilannya 20jt per bulan, bisa dipastikan bokap lo jenderal atau pejabat atau pengusaha piaraan pejabat.
SEKARANG, mi instant harganya 1200, tapi gaji lo atau bokap lo jutaan, belasan atau puluhan juta per bulan. Bukan 200rb. Harga memang naik, tapi pendapatan juga naik.
DULU, kalo elo bukan anak jenderal, anak bupati, anak menteri, atau anak pengusaha peliharaan pejabat, jangan mimpi bisa punya mobil sendiri di umur 20an (fresh graduate). Waktu itu pekerjaan 'pada umumnya' gak ada yg ngegaji elo supaya bisa makmur dikit. Makanya dulu jalanan lengang, cuma sedikit yg bisa beli mobil!
SEKARANG, Umur 20an elo lulus kuliah, sangat banyak pekerjaan yg nawarin elo gaji tinggi atau peluang bisnis bagus yg lo bisa jalanin. Sekarang nggak aneh lg pemuda fresh graduate punya gaji belasan atau puluhan juta, bisa beli mobil dan rumah dari penghasil sendiri. Makanya sekarang jalanan penuh, ekonomi naik.
DULU, lo mau pinter dan kerja keras macam apapun semua itu nyaris ga ada gunanya kalo lo ga pinter jilat pantat penguasa dan antek2nya. Karena merekalah yg menguasai ekonomi.
SEKARANG, lo pinter dan pekerja keras, ditolak sama satu perusahaan, masih banyak perusahaan lain yg incer elo. Kalo lo nggak mau jadi karyawan, banyak peluang bisnis yg bisa lo ambil tanpa harus jilat pantat penguasa.
DULU, Kalo lo bukan anak pejabat atau pengusaha piaraan pejabat, jangan mimpi bisa naik pesawat. Nggak terjangkau banget harganya. Zaman dulu orang bisa naik pesawat udah hebat banget.
SEKARANG, kapan pun lo bisa naik pesawat, bahkan banyak tiket promosi yang Rp0. Mau tiap minggu naik pesawat juga gak masalah, bukan cerita aneh.
DULU, cuma orang tertentu aja bisa naik haji, kalo nggak orang tajir abis ya pejabat atau dibiayai perusahaan.
SEKARANG, antrean naik haji bisa lebih 5 tahun, makin banyak orang mampu naik haji. Umroh aja bisa tiap tahun kalo lo mau. Banyak yg begini. Umroh udah kayak wisata biasa aja.
DULU, lo jangan mimpi bisa bebas berpendapat, termasuk seperti yg lo lakuin sekarang di kaskus. Dulu kalo lo bikin pemerintah atau orang penting tersinggung dikit aja, dijamin lo bakal 'hilang', minimal masuk penjara tanpa pengadilan. Bayangin aja suatu masa ketika lo gak boleh berseberangan pendapat sama penguasa dan antek2nya. Menyinggung anak pejabat pun lo bakal selesai.
SEKARANG, lo mau hina2 presiden di jalan, di forum, dimanapun, nggak ada yg nangkep elu. Lo mau kritik gubernur ga ada yg nangkep elu. Sekarang lo bebas berpendapat dan bersuara yg mengkritik dan berseberangan dengan pemerintah.
DULU, korupsi dimana2, tapi jangan mimpi lo bisa liat koruptor ditangkep. Mana ada dulu koruptor ditangkap. Makanya seakan2 korupsi itu lumrah karena nggak ada yg nangkep. Kalo ga ditangkep dan dilakukan berjamaah maka bisa dianggep bener kan?
SEKARANG, korupsi juga masih dimana2, tapi tinggal tunggu waktu aja ditangkep. Sekarang besan presiden aja ditangkep, ketua partai berkuasa ditangkep, anggota DPR ditangkep, kepala daerah ditangkep. Dulu semua orang2 itu juga korupsi, tapi jgn mimpi ngarepin mereka ditangkep. Jangan mimpi keadilan ditegakkan.
DULU, tipi adalah alat propaganda kekuasaan. TVRI (pemerintah), TPI (tutut, anak soeharto), RCTI (bambang, anak soeharto), Indosiar (liem, piaraan soeharto). Jangan mimpi tipi bakal nyiarkan apa yang penonton suka. Tipi hanya menyiarkan apa yg penguasa suka atau dibolehkan penguasa. Jangan mimpi acara tipi bisa joget2, ibu negara pasti nggak suka.
SEKARANG, kita banyak pilihan. Kita nggak dicekoki apa yang penguasa anggep baik untuk kita. Baik/buruk kita yg pilih, tinggal ganti cenel. Lo suka nonton berita, ganti cenel berita. Lo suka joget, nonton cenel joget. Suka pelajaran, ganti discovery, dll dll. Dulu? Mimpi kali yeeee. Yg ada tiap jam 7 malem nonton propaganda pemerintah lewat acara 'berita nasional'.
DULU, jgn mimpi bakal baca berita yg kritik pemerintah di media massa (koran, radio, tipi, dll). Bakal ditutup tuh media. Dulu buat bikin media luar biasa susahnya, dan penguasa mengontrol ketat sampai ke organisasi wartawannya. Pokoknya isi media itu cuma muji2 pembangunan aja, kayak nggak ada jeleknya deh. Semua media hanya ingin bikin penguasa seneng.
SEKARANG, jangankan bikin berita buruk ttg penguasa, kalo nggak ada berita buruk pun bakal dicari2 sama media! Penguasa jadi keder sama media karena bisa mengarahkan opini publik. Tapi bukan berarti pemilik media bisa dg mudahnya mengarahkan opini publik, karena pemainnya bukan hanya dia. Orang punya banyak pilihan.
DULU, kita sejahtera pake utang. Semua disubsidi sama Soeharto. Duitnya darimana? Dari utang! Dulu berapa utang kita ke luar negeri? Nggak ada rakyat yang boleh tau. Pokoknya rakyat taunya murah dah, perut dikenyangin biar kaga protes. Soal darimana asal duitnya, rakyat nggak perlu dan nggak boleh tau. Makanya dulu kalo ada berita Indonesia baru dapet utang, kayak berita bagus banget, kayak berita kejatohan rezeki. Utang segunung, pas jatuh tempo bayar utang kena krisis ekonomi 97. Baru rakyat melek kalo utang indonesia segede sepuluh gunung.
SEKARANG, saatnya bayar utangnya soeharto, yang sebagian buat dipake kenyangin rakyat, sebagian dipake sama dia dan antek2nya buat korupsi. Sekarang kalo ada berita pemerintah mau utang, langsung ribut sana sini. Maksudnya bukannya gak boleh ngutang. Tapi sekarang publik berperan serta aktif dalam mengawasi kebijakan keuangan pemerintah. Pemerintah nggak bisa sembunyi.
DULU, memang lebih tentram, karena nggak boleh beda pendapat atau aneh2 dikit. Diserbu pelor lo. Dulu minim preman, karena bakal kalah sama ABRI yang waktu itu berperan jadi preman.
SEKARANG, memang lebih banyak preman. Karena polisinya aja yg kaga tegas. Dan bukan cerita baru kalo kelompok2 preman banyak juga yang dipelihara sama penguasa dan aparat untuk dimanfaatkan.
DULU, semua naskah kotbah salat jumat wajib diserahkan, diperiksa dan disahkan oleh Korim setempat. ABRI memastikan kotbah tidak menghasut. Jadi dalam urusan beragama pun kontrol penguasa luar biasa.
SEKARANG, nggak ada lagi yg begini. Kalo lo gak suka sama isi kotbah jumat suatu masjid, ya lo bisa protes sama pengurus masjid atau ustadnya, atau besok2 nggak ke situ lagi. Gampang.
DULU, kalo lo bermasalah atau bersengketa dg ABRI dan pejabat atau antek2nya, artinya kiamat. Misal tanah lo diserobot sama anggota ABRI, pasrah lo. Keluarga lo ditabrak sampe mati sama anak pejabat, ya pasrah juga. Jgn mimpi bisa ke pengadilan. Warga sipil nggak ada artinya dulu.
SEKARANG, polisi nggak pake helm aja fotonya nyebar dg cepat. Polisi peras turis bisa jadi berita internasional. Anak menteri nabrak orang, jadi bulan2an di media dan mengancam karier politik bapaknya. Bupati nutup bandara dihina2 orang se indonesia. Dulu? Jangan mimpi bisa gini. Lo moto polisi nakal, besoknya elo sudah ada dalam sel.
DULU, nggak boleh kumpul2 bicara politik tanpa izin dan diawasi pemerintah. Dikit aja tuh kumpul2 bicaranya mengkritik pemerintah, langsung diangkut intel.
SEKARANG, Seminar dan forum bicara politik tiap hari, bahkan di tipi ada tiap jam. Terserah lo suka isinya atau nggak, tapi ini adalah kebebasan berbicara dan berkumpul yang dijamin UUD. Sekarang lo kumpul2 di kampus dg mudahnya ngegosipin atau bicarain pemerintah. Zaman dulu lo ngomongnya sambil bisik2. Kalo kedengeran intel lo diciduk sob!
DULU, kalo elo warga sipil, jgn mimpi bisa jadi kepala daerah. Dulu nyaris semua kepala daerah dr walikota/bupati sampe gubernur adalah ABRI.
SEKARANG, kita lihat orang2 sipil memimpin daerah, Jokowi, risma, ridwan kamil, dll. Memang tak semua baik. Dulu juga tidak semua baik, tapi dulu jangan mimpi lo bisa kritik kepala daerah lo atau adakan aksi buat gulingkan kepala daerah yang busuk.
DULU, pemilu nggak penting, karena sudah jelas siapa pemenangnya. Ada 3 partai, tapi semuanya dikuasai soeharto. Dulu waktu megawati naik pimpin PDI, langsung digulingkan. Makanya ada PDIP. Dulu nggak mungkin Golkar kalah, PNS wajib (sekali lagi wajib) pilih golkar. Kertas suara ditandain biar bisa diketahui lo milih apa. Milih partai lain juga nggak ngepek karena mereka juga orang2 soeharto. Itulah sebabnya dulu ada golput, soalnya udah jelas siapa yg menang.
SEKARANG, kita punya banyak pilihan (meski banyak yg anggep semua parpol nggak pantes dipilih). Suara kita sangat berarti. Beda 1000 suara aja bisa jadi sengketa kayak di Pilgub Bali.
DULU, jgn mimpi bisa nemuin banyak orang berjilbab, kecuali di sekolah agama kayak MTS/MA atau pesantren. Karena dulu jilbab diidentikkan dengan golongan 'fundamentalis', dan golongan ini dianggap berbahaya oleh penguasa. Di sekolah umum, di kantor2, lo nggak boleh pakai jilbab. Makanya dulu anak2 sering ngejek orang pake jilbab dg meneriaki mereka 'Ninja! Ninja!'
SEKARANG, bebas pakai jilbab, bahkan dianggap fashion. Ngelarang orang berjilbab justru bisa dimaki2 publik dan ditangkep polisi karena dianggap membatasi seseorang beribadah. Bersyukurlah lo semua sekarang yg berjilbab karena nggak bakal diteriaki 'Ninja!' di jalan sama anak2 dan nggak ada yg melarang elo.
DULU, kalo lo punya warung atau toko dan didatengin sama aparat, kiamat deh. Gak bakal dibayar! Mau protes lo mereka nggak bayar? Dijamin diangkut lo.
SEKARANG, mau presiden kek, jenderal kek, bupati kek, kalo makan di warung elo ya kudu bayar. Hina banget kalo nggak bayar, kayak nggak mampu aje. Kecuali kalo lo emang niat traktir.
DULU, penguasa yg nentuin apa yg boleh diajarkan ke elo dan apa yg tidak. Makanya jgn heran kalau buku sejarah tidak memuat peristiwa2 sejarah dan tokoh2 yg dianggap soeharto bisa merugikan kekuasaannya.
SEKARANG, apa gunanya penguasa membatasi apa yang boleh diajarkan dan tidak? Tinggal ketik di google udah ketemu. Tinggal ke kaskus dah bisa ikut diskusinya. Sekarang makin dilarang, makin memancing orang untuk cari tahu lewat berbagai macam sumber yg tersedia. Toh kita bukan Iran dan Cina yg main blokir internet. Diblokir pun dg mudah kita temukan cara buat nembusin.
DULU, orang miskin dianggep kayak penyakit dan sampah yg bisa diperlakukan seenaknya. Kalo pejabat atau presiden mau dateng ke sebuah daerah, orang2 miskin bakal diangkut dan disingkirkan sementara waktu. Daerah yg mau dikunjungi nggak boleh ada rumah kumuh dan orang miskin berkeliaran.
SEKARANG, coba2 berani kayak gitu, bakal jadi bulan2an media. Pejabat (yg baik kayak jokowi) justru dateng ke kawasan kumuh untuk cari pemecahan, bukan nutup mata. Sekarang kalo pejabat dateng ato lewat daerah kumuh, kesempatan warganya untuk demo.
DULU, lo gak boleh bilang 'dulu' (order lama) lebih baik daripada 'sekarang' (orde baru) di depan umum. Lo bakal dibilang anteknya Soekarno, antek PKI, atau mau menggulingkan pemerintah. Ujung2nya lo bakal 'hilang'.
SEKARANG, terserah elo mau banding2kan 'sekarang' (orde reformasi) dengan zaman 'dulu', apakah itu era Orba, Soekarno, era Majapahit, era pra sejarah, terserah. Nggak bakal ada yang nangkep elu.
DULU, kalo gw nulis kayak gini, besok gw pasti 'hilang' diciduk ABRI.
SEKARANG, abis gw nulis begini, gw tetap bisa hidup tenang di rumah gw yg nyaman dg mobil di garasi, gaji tetap gede, ngerencanain liburan ke luar negeri, dan joget2 YKS tiap malem.
Entah gimana dengan elo, yang pasti gw salah satu yg bersyukur bisa merasakan hidup di era pasca soeharto, karena gw melihat dan merasakan sendiri perbedaan kondisi dua zaman tersebut.
Sekarang, hal baik-buruk gw sendiri yg tentukan. Gw mau kaya-miskin, gw sendiri yg tentukan.


  


Seperti pernyataan ts diatas, mungkin saya akan hilang kalau saya tulis ini di jaman orde baru, saya akan hilang dalam sekejap.

Ingat, kalau ada tambahan, tulis di komentar aja sob.

2 komentar:

mang sulasna mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
mang sulasna mengatakan...

Kita masih bisa bertahan tanpa harus mengikuti PERATURAN yang ada
tapi Kita tidak akan bisa bertahan tanpa memiliki PERATURAN

Contact Us

Nama

Email *

Pesan *

Jangan Lupa Kalo Memang Suka Like Aja !!!

×

Powered By CLUSM and Skyzone GC

Tentang CLUSM

Blog CLUSM menyediakan informasi terbaik untuk Anda. Ingin lebih dekat dengan CLUSM? Silahkan kirimkan pesan Anda di Facebook CLUSM.
Designed By Blogger Templates