Tampilkan postingan dengan label Cerita Bersambung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Bersambung. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 28 Desember 2013

Cerbung Romantis : Diantara Dia dan Aku (3)

Cerita sebelumnya...

Hari itu adalah hari yang cerah, hari dimana aku bahkan tidak ingin merasakan kehidupan lagi tapi apa daya ketika semua itu datang begitu saja. Dimulai dengan secangkir kopi di pagi hari, Rani menatap keluar jendela dengan serius. Ya, dia sangat serius. "Rani, ada apa denganmu ? Nikmatilah secangkir kopi ini, sayang." Aku berusaha menghiburnya tetapi dia tidak menghiraukanku sama sekali. Aku bingung. Jam sudah menunjukkan pukul 10, saatnya berangkat bekerja. Aku bergegas dan aku melihatnya sejenak, dia tersenyum kepadaku, senyuman yang sedih.

Aku tidak bisa berkonsentrasi untuk bekerja. "Pak, selamat siang." Lamunanku terhenti ketika wakilku masuk ke kantor. "Ada apa ?" "Ini, kami menerima sebuah paket. Terlalu lancang bila kami membukanya dulu sebelum bapak." Aku heran, tidak biasanya orang mengirimkan paket seaneh ini. Paket yang kuteima seperti biasa tidak sama dengan paket ini. Ada apa gerangan ? Aku buka perlahan, sebuah surat dan sebuah benda yang aneh. Kubaca surat itu,
Hai, Bos besar. Setelah kamu membaca surat ini, kantormu sedang di bom oleh kelompok kami. Selamat menikmati pertunjukan yang kami sediakan.
Aku terkejut, kulihat benda itu yang ternyata adalah bom. Kulempar jauh-jauh dan meledak. Aku tak sadarkan diri. Semua gelap, aku seperti sudah ke nirwana tetapi masih bisa merasakan kehidupan. Kudengar langkah kaki, tubuhku seperti melayang mungkin karena diangkat mereka. Kini aku sudah benar-benar terlelap. Terlelap dalam kegelapan ini.

Aku merasa sedang duduk. Seorang pria bertubuh besar datang kearahku dan kemudian meninjuku. "Halo, tuan. Ha ha ha, ini hari terakhirmu untuk berbicara. Kau tahu siapa kami ?" "Siapa kalian ? Mengapa kalian harus menyiksaku seperti ini ? Jawab aku kalian orang-orang terkutuk!" Lelaki itu kembali meninjuku, "Lancang sekali kau! Sebelm kami membunuhmu, akan ku perlihatkan orang ini."

Pintu terbuka, kulihat seorang perempuan berjalan kearahku, aku kenal dia, dia tak lain adalah Rani. "Halo, sayangku." Aku bahkan tidak bisa menggerakkan tubuhku, Rani adalah bagian dari mereka ? "Sayang, kenalkah kamu dengan Reina ?" Mataku terbelalak, "Ada apa denganmu, Rani ? Gilakah engkau!" "Saya bukan Rani! Saya Reina!" "Re.. i.. na ? Dia sudah mati, bukan ? Kau bohong, istri macam apa kau!" "Cukup sudah, ingatkah ketika engkau merayuku! Kau menenlantarkanku begitu saja! Baiklah, akan kuceritakan. Waktu itu saya tidak bunuh diri. Itu hanyalah sebuah alibi. Kau tahu bagaimana aku menipu kalian semua ? Kubunuh seorang wanita yang memiliki postur tubuh yang sama denganku dan kemudian kubakar mukanya dan berkata bahwa itu adalah bunuh diri. Ku bergabung dengan kelompok ini dan melarikan diri ke luar negeri. Kau tahu siapa yang membuat ayahmu mati ? Kelompok ini! Kelompok ini takkan membiarkan perusahaanmu hidup!"

Kemarahanku sudah mencapai puncak, dan kumaki dia "Kau perempuan terkutuk, seharusnya aku tidak memikirkanmu semenjak kamu bunuh diri. Lebih baik aku membunuhmu kemarin!" "Semua sudah terlambat, sayang." Dia mengambil sebuah pistol, matanya melihat kepadaku dengan penuh arti. "Aku mencintaimu, sayang!" Dia tidak mengarahkan pistol itu kepadaku tetapi ke orang di sebelahnya. Dia menembak kelompok itu. "Kau pengkhianat, Reina!" Ketua kelompok itu mengambil senapan dan menembaki Reina tepat di kepala. Reina tewas dengan tersenyum. "Angkat tangan!" Polisi sudah memasuki gedung, ketua kelompok itu pun ditangkap. Kini aku selamat tetapi Reina, dia sudah tewas. Tanpa sadar, aku mengeluarkan air mata untuk orang yang kubenci sekaligus kucintai. Kini dia telah pergi, buat apa memikirkannya lagi. Ku lihat sejenak di sebelahku yang ternyata berisikan bom waktu.

Tidak ada waktu untuk menghindari bom itu. Bom itu meledak tepat disebelahku. Mengakhiri hidupku yang menyedihkan ini.

Tamat
Read more ...

Jumat, 27 Desember 2013

Cerbung Romantis : Diantara Dia dan Aku (2)

 Cerita sebelumnya...

Aku terperanjat dari tempat dudukku. Bagaimana mungkin ? Wajahnya seperti Reina, mataku tidak  bermasalah, itu memang dia. "Halo, pak. Nama saya Rani. Aku baru saja lulus dari tes sekretaris dan aku lulus menjadi sekretaris anda, pak." Namanya Rani tapi wajahnya kok mirip dengan Reina, apakah dia kembarannya ? "Baiklah, Rani. Kamu saya terima. Tapi apakah kamu punya kembaran ?" Sial, aku salah ngomong pula. Dia terlihat bingung, "Maaf Rani. Lupakan saja. Sekarang kamu boleh pulang. Besok baru bekerja." Dia tersenyum kemudian pergi. Senyuman persis seperti Reina, 10 tahun yang lalu.

"Mimpi apa gue semalam ?" Jam kerja sudah selesai, saatnya kembali ke rumahku. Rumahku tidak terlalu besar karenaaku mau menghemat uang dulu. Di pikiranku masih terbayang Rina, mengapa dia memiliki kemiripan muka yang sama dengan Reina ? Bahkan dari cara berjalannya, cara ngomongnya, semua sama. Apakah dia Reina ? Tidak, Reina sudah meninggal dunia, tak mungkin hidup kembali.

Tok... tok... tok... Suara pintu yang diketuk semakin mengangguku. "Siapa ?" Kubuka pintunya dan ternyata tak lain ialah Rani sendiri. "Mengapa kamu datang kesini ? Mengapa kamu tahu alamat rumahku ?" "Sorry bos, kedatanganku kali ini untuk menyerahkan artikel ini. Kata wakil, dia ingin aku membawakan artikel ini. Saya tahu rumah bapak dari wakil juga." Dia kembali tersenyum membuat pikiranku kembali memikirkan Reina kembali. Rasa bersalahku kembali muncul. "Pak, mengapa tidak menjawab ?" "Ohh maaf, akan kuambil artikelnya. Mau masuk ?" "Maaf pak, sudah mau hujan. Aku mau pulang dulu." Dia pun permisi dan berlari keluar "Rani! Mau kuantar tidak ?" Dia tidak menjawab, kurasa dia tidak mendengarnya.

Keesokan harinya, aku bertemunya di kantin kantor. Dia bercanda dengan teman-temannya. Dan tentu saja, aku kembali melihat kemiripannya dengan Reina. Semakin hari semakin mirip dan tentu saja membuatku semakin curiga. Suatu hari ketika semua karyawanku sudah ulang termasuk Rani, aku mengikutinya dari belakang. Tiba-tiba dia membelakangi dan tentu saja melihatku. Sial, mengapa teknik mengikutiku sangat payah ? "Ada apa, pak ?" Dia bingung dan aku frustasi, entah mau menjawab apa. "Ini, saya cuma takut kamu diculik soalnya sekarang banyak kasus penculikan lagipula kamu cuma sekretarisku satu-satunya." So sweet ya tapi dalam hatiku sudah berkecamuk bahkan seperti mau keluar pula. Rani tersenyum kemudian berkata, "Jangan cemas, pak." Dia melangkah pergi dan menjauh.

Meninggalkanku dalam harmoni kecurigaan yang semakin menusukku ini. Dia semakin melangkah. Apakah dia adalah jelmaan dari Reina ? Apakah aku bisa memacarinya kembali dan tidak mengulangi kesalahanku lagi, 10 tahun yang lalu ? Pertanyaan itu semakin banyak di pikiranku. Akhirnya kuputuskan untuk mencintainya kembali agar semua perasaan bersalahku itu hilang dan tentu saja untuk memperbaiki kesalahan terbesarku.

Keesokan harinya, aku berusaha menmbaknya persis seperti aku menembak Reina, 10 tahun yang lalu. Dia agak malu-malu tetapi aku tahu dalam hatinya berkata ya. Dia mulai menjadi pacarku saat itu. Setelah 5 tahun pacaran, kami memutuskan menikah dan akhirnya kita menikah dengan resepsi pernikahan yang mewah. Saat yang bahagia telah tiba, Rani hamil dan aku sangat bahagia karena akhirnya aku punya keluarga dan penerus perusahaan ini. Di pikiranku kembali terbayang Reina, "Reina, aku akan membahagiakanmu dengan cara ini." Tekadku dalam hati.

9 bulan berlalu dan Rani melahirkan anakku dengan selamat tetapi sejak saat itu, tingkahnya menjadi aneh. Bila dia selalu periang maka hari ini dia selalu pendiam dan dingin. Dia sudah tidak seperti Reina, dia sudah berubah. Suatu hari, aku mendengarkan kabar mengejutkan. Rumahku diserang perampok tetapi ternyata Rani cukup kuat, dia ternyata sedang memegang pisau sehingga dengan mudah ia menyerang sang perampok dan sekarang perampoknya kritis. Aku pun menghampirinya di kantor polisi dan memeluknya, dia berkata kepadaku "Sayang, kukira itu kamu. Aku sedang menunggumu ternyata bukan kamu melainkan perampok." "Tenang, Rani. Kau aman sekarang."

Dan hari itu....


Bersambung...
Read more ...

Kamis, 26 Desember 2013

Cerbung Romantis : Diantara Dia dan Aku (1)

Senja ini, terlihat membosankan bagiku untuk berkata-kata. Saat ini saya hanya bisa diam sambil mendengarkan lagu yang berasal dari stasiun radio setempat. Besok sudah masuk kuliah kembali jadi hari ini aku akan menghabiskannya untuk bersantai. "Mas Deni!" Terdengar suara panggilan ibu kosku "Ya, bu. Ada apa ya ?" "Saya mau minta tolong, mas. Kebetulan mas kan lagi libur kan ? Jadi bantu aku beli barang ini di pasar senja itu." Tugas lagi tapi gak apalah, mumpung lagi liburan.

Sesampainya di pasar senja, aku pun membeli pesanan ibu kosku. Hari yang suntuk bila mengetahui ternyata pasarnya penuh dengan orang. "Ada apa gerangan ?" Ternyata ada konser artis ibukota yang diselenggarakan di lapangan dekat pasar senja. "Nyesal aku datang kesini." Setelah berdesak-desakan cukup lama aku pun berhasil sampai ke toko terakhir. "Hai, mau beli apa ya, mas?" Aku terkejut ketika mengetahui yang menjaga toko ialah Reina, mahasiswi yang membuatku tergila-gila padanya semenjak semester satu.

"Hai, Re. Ternyata kamu bekerja disini." "Lama tidak bertemu, mas Deni. Mau beli apa ya mas ?" Aku pun membeli barang yang disampaikan ibu kos. "Sampai ketemu di kampus besok." Aku pun keluar dan hatiku terlihat bahagia sekali. Ya, sangat. Mulai saat itu, aku sering mampir di tokonya itu. Kita sering mengobrol dan bercanda disana. Sampai suatu hari, ketika aku menembaknya dan dia menerimanya. Hatiku sangat bahagia sekali.

Hari demi hari kujalani dengannya tanpa masalah sampai hari itu dimana aku sendiri sudah bosan menjalin hubungan dengannya. Aku berencana memutuskannya. Malam itu, di taman dekat kosku, aku hendak berkata kepadanya bahwa aku sudah bosan tetapi aku takut untuk melukai perasaannya. "Say, hubungan kita sampai disini aja ya." Dia diam saja dan dia sepertinya mulai menangis. "Mungkin ini yang terbaik bagi aku dan kamu." Aku meninggalkannya begitu saja. Kejamkah aku ? Yang penting sekarang aku sudah terbebas darinya.

Kujalan dengan santai ke kampus dan kulihat sebentar ketempat biasa Reina dan teman-temannya nongkrong. Tidak ada orang selain Tika, teman Reina. Dia menghampiriku sambil menyodorkan sebuah kertas. Reina menyuruhku untuk memberikan ini. Isi surat itu membuatku terperanjat, isinya
Hai, mas Deni tersayang. Ingatkah ketika pertama kali kau bertemuku saat semester satu. Kamu lucu dan aku menyukaimu. Dan akhirnya kamu menembakku di toko. Aku menerimanya dan duniaku seakan melayang. Kini kau tidak mencintaiku lagi. Ketika kamu membaca surat ini, aku sudah tidak ada di dunia ini. Bukankah hidupmu lebih indah bila aku tidak ada. Tenang saja, aku tidak menyalahkanmu. Aku minta maaf bila aku hanya menjadi beban bagimu. Kini aku telah berhasil membuatmu senang. Maaf untuk sekali lagi, aku mencintaimu.
Kakiku terasa mati, aku tidak bisa berdiri sama sekali. Aku menyesali kesalahanku dan dengan sendirinya, aku menangis. Besok adalah pemakamannya dan aku tidak bisa menghadirinya. Rasa bersalah ini semakin mencekam. Aku semakin takut. "Tuhan, aku menyesal!" Teriakku di kamar kosku. Menangis tidak akan membuatnya hidup kembali.

Kini aku sudah terbiasa dengan kepergiannya, meski rasa bersalah ini masih menghantuiku. Aku berusaha sungguh di kampus. 10 tahun kemudian, kini aku sudah berusia 30 tahun dan menjadi seorang pengusaha muda. Ayahku baru saja meninggal sehingga aku mengambil alih perusahannya. Berbekal ilmuku yang aku pelajari saat kuliah, bisnis ini berkembang pesat dan bahkan mencapai luar negeri.

"Bos, ada yang mau mencarimu." Seorang wanita muda memasuki kantorku. Dia ?

Bersambung...
Read more ...

Kamis, 28 Maret 2013

Tempatku Bersandar - 4

Cerita Sebelumnya :

Michael berusaha mengenal Angel lebih dalam untuk memudahkannya dalam misi penculikannya. Langkah awal yang dilakukan Michael ialah mengajak Angel ke Restoran di Jalan Diamond.

Angel terpesona dengan kemegahan restoran yang ditujukan Michael ini. "Ayo duduk," Michael tersenyum kepada Angel, "Mengapa kau mengajakku ke restoran mewah ini ?" Michael hanya tersenyum, "Tolong pesan ayam ini dan juga bir tapi kasih perempuan di depanku Lemon Tea." Michael terkejut ketika ternyata McLawren, bosnya juga datang ke restoran itu.

Micahel memikirkan seribu cara agar menyakinkan bosnya bahwa itu hanyalah merupakan pendekatan. "Aku harus ke toilet." Angel mengiyakan perkataan Michael. "Hey, Mike. Kau datang juga. Apa yang kau lakukan dengan Angel ? Apakah kau tidak jadi menculiknya ?" Gordon terlihat penasaran, "Aku hanya melakukan pendekatan. Disaat ada kesempatan, aku akan menculiknya," Gordon mulai tersenyum, "Kalau begitu, semoga beruntung. Ha ha ha."

Angel menunggu Michael sangat lama bahkan makanannya mulai dingin. "Maafkan aku, Angel." Micahel meminta maaf. "Aku memaafkanmu. Mari makan." Setelah mereka makan malam, mereka pun menuju taman. Mereka pun bermain disana sampai lupa waktu. Salah satu pegawai Gordon melihat mereka dan melaporkannya ke bosnya.

"Ini tak bisa dibiarkan. Apabila Michael terlalu dekat dengan Angel maka dia akan mulai berhenti mengerjakan misinya." Gordon terlihat marah, "Kita harus segera menculik Angel, kalau tidak Michael akan melindunginya." Kepercayaan Gordon yaitu Boliver menasehati Gordon. Keesokan harinya, 15 orang dengan topeng datang ke rumah Angel.

Bersambung...
Read more ...

Sabtu, 23 Maret 2013

Tempatku Bersandar - 3

Cerita Sebelumnya :

Michael bertemu dengan bosnya yaitu Gordon McLawren. Gordon mempunyai tugas untuknya yaitu menculik Angel, gadis yang baru ditemuinya. Misi pertama Michael adalah mencari kesempatan untuk menculik Angel.

Michael keluar dari gudang tersebut dan melihat Angel masih terlelap di kursi panjang itu. Michael tidak tega untuk menculiknya sekarang sehingga ia membawa Angel kerumahnya. Angel terbangun dan melihat seorang pria yang sedang berdiri menghadap jendela rumahnya. Angel mengambil sebuah benda dan ingin memukul sang pria itu. Tapi sebelum Angel sempat memukulnya pria yang ternyata Michael itu menyapa "Selamat malam" sehingga membuat muka Angel menjadi merah.

"Aku harus pergi. Aku hanya mengantar kamu ke rumahmu. Maaf soal siang tadi." Michael pun berlalu meninggalkan Angel di rumah tersebut. Angel hanya menatap keluar melalui jendela dan berkata "Bagaimana aku dapat berkencan dengan pria itu ?"

Michael tertunduk lesu di sebuah kursi taman. Ia tampaknya tidak peduli dengan orang yang melintas didepannya. "Aku tak bisa menculiknya. Tapi bila aku tidak menculiknya maka uang itu takkan kudapat." Michael dihadapkan pada dilema yang kuat.

Keesokan harinya, Michael bangun dan bersiap-siap memberi Angel sebuah "kenangan". Angel sedang menonton televisi dan tiba-tiba suara bel rumahnya berbunyi menandakan ada orang yang datang. Angel bangun dari kursi malasnya dan berlari menuju ke arah pintu kemudian Angel terkejut karena yang datang ialah Michael. Michael mengajak ia ke restoran dan Angel terkejut mengapa Michael sangat baik hari ini.

Bersambung...
Read more ...

Rabu, 20 Maret 2013

Tempatku Bersandar - 2

Cerita sebelumnya :

Michael secara tidak sengaja bertemu dengan Angel yang menabrak kakinya dua kali. Angel menyukai Michael tetapi Michael mempunyai sisi gelap yang tidak diketahui Angel. Dia dilempar ke laut setelah dia dihajar oleh pengejar utang.

Angel yang sedang bersepeda disekitar pelabuhan melihat banyak orang berkerumun di pelabuhan itu. "Ya, Tuhan!" Angel terkejut ketika melihat bahwa Michael-lah yang ternyata menjadi pusat perhatian. "Apa yang terjadi, pak ? Apakah ia baik-baik saja ?" Angel bertanya kepada petugas ambulance yang kemudian dijawab "Dia jatuh ke laut dan kami belum menemukan bagaimana ia bisa jatuh ke laut." Ambulance itu pun pergi dan Angel bergegas mengambil sepedanya dan mengikuti ambulance tersebut. "Dia sangat beruntung. Dia hanya mengalami luka bukan karena jatuh ke laut. Mungkin ia berkelahi." Dokter menerangkan keadaan Michael kepada Angel.

Michael terbangun keesokan harinya dan melihat Angel tertidur lelap di kursi ruangan pasien. Michael memikirkan mengapa dia bisa disini. "Ohh kau sudah bangun. Kapan kau bangun." Michael hanya melihat-lihat saja tanpa memerhatikan pertanyaan Angel. "Aku harus pergi. Uangku ? Mana uangku ?" Michael menyadari bahwa uangnya telah habis dan muka MIchael berubah menjadi pucat.

Michael terburu-buru melepaskan infusnya dan melangkah keluar. Angel mengikuti Michael dari belakang yang tentunya tidak dihiraukan Michael. Michael menuju ke sebuah gudang di pinggiran New York dan Angel tetap berada dibelakangnya setelah sekian lama berjalan. "Angel, aku menyuruhmu agar pulang. Tempat ini berbahaya." Angel hanya diam dan kemudian ia berkata "Aku takut, Michael. Aku takut kau dipukul mereka lagi." Michael hanya diam kemudian ia menempelkan obat bius ke hidung Angel. "Maaf, Angel. Ini demi kebaikanmu." Michael menyandarkan Angel pada sebuah kursi panjang dan Michael melngkah masuk menuju gudang.

"Gordon!" Michael meneriakkan nama bosnya. Gordon McLawren keluar dari sebuah kamar di ujung koridor. "Aku pikir kau sudah mati." "Aku takkan mati, Gordon. Mana uangku ?" Michael mulai geram. "Aku harus melatihmu dulu. Penjaga! Beri dia pelajaran!" Gordon menyuruh pengawalnya menyerang Michael dan dengan gaya yang hebat, Michael membuat semua orang itu tidak berkutik. "Aku salut akan kehebatanmu. Uangmu masih tiggal selangkah lagi tapi kau harus menjalankan misi ini." Gordon menawarkan misi kepada Michael. "Baik, apa misinya ?" "Mari ikut aku." Mereka pun masuk ke kantor Gordon. "Kau harus menculik orang ini. Berikan orang ini kepada kami." Gordon mengeluarkan sebuah arsip dan memperlihatkannya kepada Michael. Darah Michael seperti hilang dan wajahnya berubah pucat setelah melihat arsip itu. "Angel Morrison. Keluarganya berasal dari Medan, Indonesia. Dia disekolahkan di New York tetapi orangtuanya masih di mEdan. Kau harus menculiknya. Uang tebusannya bisa membuat kamu membeli 3 ferrari." Michael hanya diam karena dia diharuskan menculik gadis yang baru dikenalnya itu.
Read more ...

Tempatku Bersandar - 1

Seorang pemuda berjalan-jalan di sebuah kota yang hiruk-pikuk tapi sepertinya ia tidak memerdulikannya. Dia masuk ke sebuah bar dan memesan sebotol bir. "Aku sepertinya pernah melihatmu." Seorang laki-laki yang duduk disebelahnya menatap dia. "Bukankah kau yang menghancurkan rumahku ?" Pemuda itu tidak menghiraukannya dan lelaki di sebelahnya mulai mendorongnya. Pemuda itu mulai kesal dan terjadilah perkelahian yang seru di bar. Tiba-tiba seorang bertubuh besar melerai mereka berdua dan pemuda itu dilempar keluar. "Menyebalkan!" Pemuda itu menggerutu.

Dia berjalan tanpa memerhatikan jalan dan seorang gadis yang lagi bersepada menabrak kakinya. "Pake mata dong!" Pemuda itu kesal "Maafkan aku, aku sudah lama tidak bersepeda." Pemuda itu berusaha berdiri dan gadis itu berusaha menolong ia berdiri tetapi pemuda itu menepisnya dan berkata "Pulanglah!" Gadis itu terlihat menyesal tetapi gadis itu menyukai pemuda tersebut. "Aku sudah bilang, Michael. Bahwa kau harus membayar kamar ini dalam sepuluh hari. Kalau tidak kau kan kutendang!" Lelaki separuh baya pemilik kos memarahi pemuda yang bernama Michael itu. Michael terlihat diam.

Gadis itu kembali bersepeda dan saat ia melewati kosnya Michael, dia kembali menabrak kaki Michael. Michae menoleh dan sadar bahwa yang menabraknya adalah gadis yang sama seperti kemarin dan gadis itu menyadari bahwa dia kembali menabrak laki-laki yang sama. Michael terlihat agak sabar karena mengetahui bahwa itu sangat kebetulan. Michael kemudian mengajak gadis itu minum kopi dan gadis itu hanya menganggukan kepalanya karena malu.

"Namaku Angel, aku berasal dari Medan, Indonesia." Angel memperkenalkan dirinya. "Tapi rasmu mirip orang timur ?" Michael penasaran. "Memang mukaku seperti begitu" Angel terlihat malu-malu. "Aku Michael, Michael Watson, semoga kau tahu betapa sulitnya hidup di New York. Tapi sepertinya aku harus pergi." Michael keluar dari toko tersebut meninggalkan Angel sendirian.

Di pelabuhan, Michael dikejar oleh pengejar utang. Kaki Michael mulai sakit dan jatuh sehingga pengejar utang itu bisa menangkapnya. Michael dipukuli sampai babak belur dan semua uangnya diambil oleh orang itu. Untuk menghilangkan jejak, pengejar utang itu membuang tubuh Michael ke laut.

Bersambung...


Read more ...

Minggu, 24 Februari 2013

Bad Luck Soldier Part 1

Part 1 : Recruitment

"SIAP !!! GRAK !!!!" teriak pemimpinku. Aku tidak tahu mengapa ayahku terobsesi anaknya menjadi seorang tentara. Namaku John Cramore. Ibuku berasal dari China dan ayahku berasal dari Belgia. Aku tinggal bersama saudaraku di New York tetapi aku harus pindah ke Washington D.C untuk berlatih menjadi tentara. Aku menyukai seorang gadis Asia, Angel namanya. Tapi inilah sifat burukku, aku tak punya keeberanian untuk mengencaninya. Aku sering bercerita kepada teman sekamarku bahwa aku sangat menyukai Angel dari sisi parasnya, sikapnya, dan juga senyumnya yang manis tapi sayang, dia pemarah tetapi kalau emosinya stabil, dia kan terlihat seperti malaikat. Penasaran mengapa aku bisa bertemu Angel ? Aku bertemu dengannya pada tanggal 21 Juli 2011 jam ke 14 menit ke 30 detik ke 3. Dia ( atau mungkin aku ) menabrakku dan menjatuhkan seluruh bukunya. Aku pun membantu dia merapikan semua bukunya. Dia pun mengucapkan terima kasih dan sebelum dia pergi, aku masih sempat menanyai namanya. Dia menjawab Angel Maurice. Keesokan harinya, aku kembali bertemunya di perpustakaan kota. Aku pun kembali menyapanya. Dia tersenyum dan aku pun kembali bertanya. Aku bertanya, apa profesinya ? Dia menjawab "Aku adalah seorang penari di Studio 38 di Jalan Everest no.52." Aku pun kembali bertanya, apakah hobinya ? Dia kembali menjawab "Ya jelas menarilah. Aku suka meniru orang Korea dalam berdansa dan menari." Tiba-tiba, handphonenya menyala dan dia pun permisi padaku untuk pergi ke Studio 38. Aku yang penasaran mengikutinya sampai ke Studio 38. Sakit sekali melihat kejadian itu, dia ternyata berpacaran dengan seorang yang tinggi dan tampan. Mau tahu rasanya pada waktu itu ? Serasa dicekik oleh seorang yang berkuku panjang di sebuah tiang berapi-api yang suhunya mencapai 10000 derajat celcius juga ditikam oleh seorang berotot besar yang memakai tombak besi tanpa karat untuk menikam korbannya.

Kepalaku tertunduk dan rasanya ingin menggantungkan diri di Imperial State Building. Dengan taksi, aku kembali ke barakku. Itulah cerita saat aku bertemu dengan Angel. Sekarang, aku telah diterima di angkatan darat. Ketuaku bilang aku dapat cuti selama 1 bulan. Aku pun mendapat uang jajan $500 dan sebuah apartemen pinjaman. Dan satu hal yang membuatku sangat senang yaitu bahwa Angel putus dengan pacarnya yang tinggi dan tampan itu karena suatu argumen. Aku mengetahuinya dari seorang teman Angel. Aku juga berhasil mendapat nomor handphone-nya. Degan perasaan berani, aku mencoba menelepon Angel.
Read more ...

Minggu, 02 September 2012

Van Lenveter ( Part 2 )

Chapter 2 : Temptation

     Van kecil pun memasuki gubuk tersebut. Mengetahui anak tersebut adalah orang Belanda, keluarga itu tetap menerimanya dengan ramah. Van Lenveter kecil mengira keluarga tersebut pasti akan membunuhnya paling tidak passti menghajarnya. Keluarga tersebut bercakap-cakap dengan suatu bahasa yang tidak mungkin Van Lenveter akan mengerti. Keluarga itu bertanya kepadanya dengan bahasa daerah mereka. Van kecil hanya bisa menggeleng-geleng. Tiba-tiba, terdengar teriakan orang Belanda yaitu ayah Van Lenveter." Van ! Van ! Dimana kamu !?" Teriak ayahnya."Aku disini !" Balas Van Lenveter. Ayahnya pun menampar anaknya."Kenapa kau berani memasuki tempat seperti itu !?" Tanya ayahnya dengan geram."Hey kamu !" Perintah ayah Van Lenveter kepada salah satu prajuritnya "Bunuh satu keluarga ini karena mereka telah mencemari anak saya ! CEPAT !".Van kecil pun terkejut dan memohon kepada ayahnya tetapi hal tersebut tidak digubris ayahnya. Satu keluarga tersebut pun dibantai di tempat itu juga. Sejak saat itu, Van menjadi dendam kepada ayahnya sampai..........

To Be Continued..........

Read more ...

Sabtu, 01 September 2012

Van Lenveter ( Part 1 )

By : Daniel Lim
Genre : Action, Fiction
Setting : 1850-an in Indonesia

Chapter 1 : Welcome to Indonesia
     Van Lenveter kecil merupakan anak yang bandel. Ia suka menjahili orang disekitarnya. Tetapi itu semuanya berubah ketika ayahnya mengajaknya ke Hindia-Belanda atau Indonesia. Ayah Van Lenventer adalah seorang letnan yang mendapatkan posisi di Hindia-Belanda. Ayah Van Lenventer menginginkan anaknya menjadi seorang tentara seperti ayahnya. Van Lenventer mengira di Hindia-Belanda adalah tempat yang membosankan." Ayah, kenapa kita harus datang ke tempat jelek ini ?" Tanya Van Lenveter dengan muka cemberut." Nak, ayah mendapat tugas" Jawab ayahnya. Ayah Van Lenveter kemudian mengajak anaknya ke kebun sawit yang berada di Jombang, Jawa Timur. Dengan berpakaian ala bangsawan, Van Lenveter kemudian melihat seorang anak berkulit sawo matang lewat di hadapannya. Van Lenveter bermaksud mengajaknya bermain tetapi ditepis oleh ayahnya."Mereka adalah pribumi. Mereka tidak sebanding dengan kita" Ujar ayahnya membuat Van bingung."Memang kenapa ayah ?" tanya Van Lenveter."Kamu akan mengetahuinya saat kamu dewasa" jawab ayahnya dingin.

     Van kecil kemudian melihat seorang pribumi tua renta yang ditendang-tendang oleh salah satu prajurit Belanda."Yah, saya tidak tahan berada disini" Van Lenveter pun menangis dan berlari sejauh mungkin dari sana. Van Lenveeter kecil pun berlari ke sebuah rumah yang dihuni oleh sekeluarga pribumi asli Indonesia.

To Be Continued...........
Read more ...

Contact Us

Nama

Email *

Pesan *

Jangan Lupa Kalo Memang Suka Like Aja !!!

×

Powered By CLUSM and Skyzone GC

Tentang CLUSM

Blog CLUSM menyediakan informasi terbaik untuk Anda. Ingin lebih dekat dengan CLUSM? Silahkan kirimkan pesan Anda di Facebook CLUSM.
Designed By Blogger Templates