Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Kamis, 11 Juni 2015

Cerita Misteri - Black Nova : Evil Awakening Part 2

Untuk membaca cerita sebelumnya dari seri ini, silahkan klik disini.

Apakah kau percaya kelak dunia akan mengalami sesuatu yang bernama "Kiamat Zombie"? Aku percaya itu. Awalnya, aku kira semua itu hanya berada di film-film saja. Namun, sebuah peristiwa mengubah pendapatku ini.

Pagi itu, aku berada di kantorku yang berada di kota New York. Pekerjaan membuatku tak bisa keluar bahkan untuk makan siang sekalipun. Sebenarnya, bosku sudah mengijinkanku untuk makan siang namun karena malam nanti aku masih harus pergi ke Boston maka aku harus menyelesaikan pekerjaanku hari ini juga.

Langit terlihat cerah. Aku sedang sendiri di kantor saat ini. Karyawan lain keluar untuk makan siang, termasuk manajer.

Aku mengerjakan pekerjaanku dengan serius. Namun, sebuah panggilan masuk. "Ya, halo?" Jawabku, "Bob! Kunci kantormu! Jangan sampai ada yang masuk!". Telepon ditutup, itu adalah bosku. Ia terlihat sangat panik dan serius. Aku menuruti perintahnya. Namun sebelum aku mengunci kantor, aku melihat Charlie. Lelaki itu masuk dengan perlahan ke kantor, aku mengabaikan pesan bosku untuk tidak mengijinkan seseorangpun untuk masuk. Ia menatapku dan aku histeris. Bukan karena aku benci dengannya namun karena matanya telah berubah merah menyala.

Aku segera berlari keluar. Pekerjaaanku sendiri sudah dilupakan. Charlie mengejarku dengan ganas. Aku mengambil lift dan lift itu menutup sebelum Charlie sempat menyentuh tubuhku. Jantungku berdebar hebat. Aku segera menekan tombol lift ke basement. Setelah sampai, aku mengambil mobil dan langsung menuju rumah.

Aku tinggal di apartemen di kawasan Bronx. Aku sendiri adalah pria sendiri yang masih belum memutuskan untuk menikah. Jadi, aku tak perlu khawatir tentang masalah menyelamatkan-istri-pacar. Aku mengambil barang penting dan segera masuk ke mobil. Aku segera mengarah ke Boston. Keluargaku tinggal disana.

Tetapi jalanan sangat macet. Ratusan (mungkin ribuan) mobil berusaha untuk kabur dari bencana ini. Aku masih tak tahu detailnya. Namun tiba-tiba ratusan orang yang matanya berwarna merah seperti Charlie datang menyerang mobil-mobil, termasuk mobilku.

Sebelum mobil yang kukendarai ini diserang, aku segera mengambil posisi kabur ke arah lain. Namun mereka tak menyerah! Mereka memecahkan kaca mobilku dan berusaha menggapaiku. Namun, aku juga tak menyerah! Aku menarik rem tangan dan menikung dengan tajam. Para monster bermata merah itu terlepas dari mobil.

New York adalah kota yang besar dan padat penduduknya sehingga aku masih terjebak macet setelah lolos dari zombie itu. Tetapi mereka juga banyak. Mereka menyerang penduduk dan mengubah mereka menjadi salah satu dari mereka juga.

Pemadangan mengerikan itu terjadi di hadapanku. Aku segera keluar dari mobil dan menuju ke stasiun kereta bawah tanah. Tempat itu penuh orang yang ingin segera keluar dari pulau. Aku sudah takut dengan keramaian. Takut kalau tiba-tiba ada monster mata merah itu datang dan mengubah keramaian itu menjadi monster juga. Jadi aku mengambil langkah ke tempat sepi, tepatnya di gang itu.

Tetapi sepertinya aku tak bernasib baik. Di gang itu berdiri seorang lelaki dengan mata merah menyala. Aku kira aku sudah pasti mati namun monster itu berdiri layaknya manusia biasa. Ia malah tersenyum kepadaku. Ia bisa berkata-kata juga, "Umat manusia sedang menuju kehancuran. Kita adalah ras yang baru." Ia mendekat, "Aku adalah Novans, manusia hasil dari virus Titan von Germania, yang disalurkan melalui Nova Light. Aku bukan zombie karena aku masih memiliki kepintaran."

Ia berhenti sejenak dan menunjuk ke jalanan. "Monster itu bertidak demikian karena mereka adalah Novans dengan kepintaran tingkat pertama. Mereka bodoh dan hanya memiliki tujuan untuk memakan manusia atau setidaknya menginfeksi manusia," lanjutnya. Aku memberanikan diri untuk bertanya, "Apa tujuanmu?" Ia tertawa dan berkata, "Menghancurkan homo sapiens di planet ini dan menjadikan homo novans yang bermata merah dan kuat serta memiliki kemampuan regenerasi menjadi spesies dominan di planet ini." Aku ketakutan setelah mendengar itu, "Aku tak akan membunuhmu." Ia menyentuhku dan kemudian melanjutkan berkata, "Aku George Oslo, pemimpin dari para Novans, mengangkatmu untuk menjadi seorang Novans dengan kepintaran tingkat kelima."

Aku terkulai lemas setelah ia menyentuhku. Ia melihat ke arahku, "Kini kau telah menjadi salah satu dari kami."

Untuk membaca cerita selanjutnya dari seri ini, silahkan klik disini.
Read more ...

Senin, 08 Juni 2015

Cerita Misteri - Black Nova : Evil Awakening

Gempa bumi di Mayertown telah mengagetkan dunia. Bukan karena bencana alamnya namun karena apa yang dilepaskan dari gempa bumi itu. Sebuah produk bernama Nova Light tersebar di penjuru kota. Membuat mayat bangkit kembali. Mayat hidup itu tak bersikap manusiawi, tujuan mereka mengejar daging manusia. Sampai kini, monster itu masih tak terlihat. Puluhan, tidak, ribuan aparat militer berjaga-jaga disana. Mengisolasi Mayertown hingga ratusan kilometer.

Namun, aku, George Oslo tidak memperdulikan hal itu. Bekerja sebagai tukang reparasi di kota New York sudah membuatku muak. Bagaimana tidak? Bosku selalu marah-marah, pelanggan yang kadang tak puas. Aku ingin lepas dari pekerjaan namun hanya ini yang bisa kukerjakan. Aku hanya lulusan SMA yang kalau keluar dari pekerjaan ini, maka masa depanku takkan ada lagi.

Aku pulang ke apartemenku dengan lesu. Angin sore berhembus membuat perutku terasa mual. Aku bersandar ke sofa setelah memasuki kamarku. Surat kabar gratis yang tak bermutu menghiasi kamar apartemenku. Surat kabar itu dibagikan gratis setiap pagi di setiap kamar apartemen. Bahkan beberapa orang membuang surat kabar itu.

Aku mengambil surat kabar itu dan membacanya. Headline koran itu bertuliskan "Diduga Virus Zombie Telah Memasuki New York". Aku bahkan tak terkejut. Aku bahkan berharap zombie itu datang masuk ke kamarku dan menggigitku, menjadikanku salah satu dari mereka. Surat kabar itu kubuang dan aku pun segera tidur.

Keesokan harinya, saya baru menyadari berita itu bohong. Perusahaan surat kabar itu sudah bangkrut dan di hari terakhir mereka, mereka ingin "mengejutkan" seisi kota. Namun itu gagal karena banyak orang menemukan kesalahan eja dalam berita itu. Aku pun melanjutkan kerja membosankan ini.

"Aku melihat keputusasaan dalam dirimu," kata seorang pelanggan kepadaku. Aku menatapnya serius dan menganggukkan kepala tanpa ragu. Umurnya sekitar 70-an. Ia tersenyum dan menyuruhku berhenti bekerja sebentar. Ia membawaku ke sebuah ruangan, tepatnya di bawah tanah rumahnya. Ia mengeluarkan sesuatu seperti jarum suntik. "Ini akan mengakhiri penderitaanmu!" Ucapnya lantang. Aku terkejut dan naluriku menyuruh untuk segera kabur namun terlambat, ia menusukkan jarum itu ke tubuhku. Rasanya tak enak. Semua ingatanku akan masa lalu terungkap, mulai dari saat pertama aku belajar berjalan hingga saat aku diinjeksi sesuatu saat ini.

Tak lama kemudian, semua seperti sediakala. Laki-laki tua telah menghilang. Aku masih sadar. Namun ada yang aneh dariku. Tubuhku terasa lebih kuat dan lebih bersemangat. Aku melihat diriku di cermin dan terkejut, mataku telah berwarna merah menyala! Aku tersungkur, aku telah menjadi salah satu dari mereka. Tetapi aneh, aku masih waras dan masih bisa mengingat tentang masa laluku. Sejauh ini, aku merasa aku masih manusia biasa. Namun, ada sebuah hasrat menggebu-gebu dariku. Hasrat untuk memusnahkan manusia dari muka bumi untuk selamanya.

Sumber gambar : television.thedigitalfix.com

Untuk membaca cerita selanjutnya dari seri ini silahkan klik disini.
Read more ...

Kamis, 04 Juni 2015

Cerita Misteri - Black Nova : Secret Origin Part 2

Untuk membaca cerita dari seri sebelumnya, silahkan klik disini.

Ada yang mengatakan bahwa senjata itu hanya mempermalukan Reich Ketiga. Tetapi sebagian lagi optimis bahwa senjata itu mampu menghancurkan Soviet sampai tak bersisa. Namun aku tidak memilih dua kubu itu. Aku optimis melihat kekuatannya namun untuk dampak yang ditimbulkan, aku pesimis karena senjata itu bisa "menusuk" kembali Jerman dengan mudah.

Krankheit, begitulah cara kami menyebutnya. Seperti pula namanya, senjata itu menembakkan penyakit yang mengerikan. Kami pernah mencobanya pada tahanan Yahudi di kamp konsentrasi yang tak mau aku sebut namanya. Tahanan yahudi itu memang tewas seketika namun kembali bangkit sebagai sesosok monster agresif bermata merah menyala. Kami melempar bom ke arah mereka dan tubuh mereka tumbuh kembali dari kepala. Akhirnya kami menembak kepala mereka sehingga timbul ledakan cahaya besar. Pihak SS telah menutup kamp tersebut dan merahasiakan proyek itu dari publik.

Hitler telah menyuruh kami untuk menghentikan proyek ini. Namun tidak bagi pihak SS. Himmler pernah sekali datang kepadaku dan berkata bahwa kemenangan Jerman tergantung atas senjata ini. Ia menyuruh seorang kapten bertubuh tegap bernama William Huss untuk menguji coba senjata ini di front Stalingrad. Ia setuju.

Sesaat setelah tahun baru 1943, William Huss bersama barisannya pergi ke Stalingrad membawa mesin itu. Berhari-hari kami menunggu kabar. Tiba-tiba datanglah kabar tidak diinginkan. William Huss beserta barisannya dinyatakan hilang dalam tugas.

Aku bersama timku akhirnya angkat tangan. Himmler pun sudah pasrah dan akhirnya proyek ini dibatalkan. Aku beralih profesi sejak saat itu. Dari ketua peneliti menjadi seorang petugas medis di garis depan.

Beberapa tahun kemudian, Jerman telah kalah perang lagi. Adolf Hitler secara resmi dinyatakan tewas bunuh diri meski diriku tak yakin karena Hitler bukanlah tipe orang seperti itu.

Aku digiring sebagai tahanan politik namun pihak Sekutu tak menemukan kesalahanku sehingga akhirnya aku dibebaskan. Proyek itu sepertinya telah dilupakan. Bahkan oleh pihak musuh sekalipun.

25 tahun kemudian, aku saat itu sedang duduk di beranda rumah bersama istriku. Saat itu, aku sudah tinggal di Amerika Serikat, tepatnya di kota Los Angeles. Namun, beberapa polisi datang kemudian. Mereka tak berkata apa-apa dan hanya menyuruh, "ikuti saja!" Aku mengikuti mereka dan naik ke mobil. Mereka membawaku ke dermaga dan menyuruhku menaiki perahu. Mereka membawaku ke sebuah pulau kecil.

Aku terkejut bukan main saat dibawa masuk ke sebuah ruangan. Para petinggi Soviet dan Amerika itu berada dalam satu ruangan. Padahal, secara diplomatik, mereka sedang bermusuhan.

Aku duduk dan seseorang yang mengaku bernama Ulyanov memulai pembicaraan. Namun sebelum ia mempresentasikan sesuatu, ia menyerahkan sebuah surat kabar terkini kepadaku. Tertulis di headline dengan bahasa Rusia yang diterjemahkan olehnya, "Monster Mengerikan Memangsa Seorang Perempuan". Ia kemudian menjelaskan apa yang tertulis di surat kabar itu. Pada tanggal 17 September 1970 di Volgograd. Seorang yang tak diketahui namanya memangsa seorang wanita yang diduga istrinya. Ciri fisiknya bermata merah dan mengerikan. Pihak kepolisian berusaha menghentikanya tetapi ia malah mengamuk sehingga polisi melepaskan tembakan. Namun, tubuhnya tetap utuh kembali setiap peluru yang ditembakkan. Saat ini, pelaku telah menghilang.

Tubuhku serasa beku setelah menyadari bahwa monster yang dibicarakan di surat kabar itu adalah monster yang dihasilkanku bersama timku. Aku menatap Ulyanov. Ia tersenyum. Dia berbicara kepadaku dengan bahasa Jerman. "Monster itu adalah buatan kami. Kami menginjeksi cairan putih dari mesin kalian dulu ke dalam tubuhnya. Ia berlaku agresif setelah itu. Namanya ialah Thomas Kroos. Seorang tentara reguler yang selamat dari mesin pembunuh itu. Mesin itu meledak dan menjadikan mereka menjadi monster. Sampai kini, monster itu masih berada di hutan," ujarnya kepadaku.

Ia kemudian berkata, "Saat ini, Titan von Germania, nama yang kami sebut untuk virus itu telah kami serahkan kepada Amerika Serikat. Kami tak mau menahan virus mengerikan itu lagi di negara kami. Lagipula, para kapitalis ini tertarik dengan virus itu." Ia berdiri diikuti para petinggi Soviet lainnya. Ia kemudian melanjutkan, "Jika kau mau bertanya tentang virus yang kau ciptakan itu, silahkan tanya pada para Amerika ini."

Mereka meninggalkan ruangan dan menyerahkan kepadaku sebuah foto makhluk yang mereka ciptakan itu, Thomas Kroos.

Aku diantar pulang ke rumah. Istriku bertanya ada apa namun aku telah bersumpah untuk tidak membocorkan pertemuan itu sehingga aku hanya menggelengkan kepala. Aku kemudian mendapat informasi bahwa virus itu kini sudah berada di ruang bawah tanah MMR, Military Medical Research.

Aku tak mau membahas itu lagi sehingga bertahun-tahun kulewati dengan ketidak-pedulian akan virus.

Tahun 2015, terjadi gempa mengerikan di Mayertown dan aku menyesalkan tindakan tidak peduliku itu.

Sumber gambar : zombiehunters.org
Read more ...

Senin, 01 Juni 2015

Cerita Misteri - Black Nova : Secret Origin

Untuk membaca cerita sebelumnya dari seri ini, silahkan klik disini.

Aku adalah tentara garis depan di Stalingrad. Pemerintah Reich Ketiga telah memutuskan untuk menginvasi habis-habisan Uni Soviet yang saat ini sedang dipimpin Stalin, Joseph Stalin. Saat ini, pasukan Soviet telah menyerang balik. Pasukan mereka banyak dan sangat bersemangat. Aku tak tahu apakah hari ini adalah hari terakhir aku bisa memegang senjata dan bertempur demi tanah air.

"Thomas!" Aku menoleh ke arah panggilan itu. Seorang tentara bertubuh tegap dengan lencana Salib Besi di lehernya memanggilku. Ia adalah Huss, kapten barisanku. Ia pernah menjatuhkan sepuluh buah pesawat tempur Inggris dan menghancurkan lima puluh tank Soviet.

"Heil Hitler, kapten." Ia terdiam dan kemudian mengarahkanku ke suatu tempat. Beberapa kopral dan tamtama Jerman terlihat disana. Jumlahnya sekitar 15 orang. Terdapat juga sebuah mesin aneh di tengah mereka.

"Ini adalah Krankheit, senjata yang akan kita gunakan untuk Soviet!" Ia menatap kelima belas orang itu, "Soviet akan jatuh dibawah senjata ini." Sebuah cairan menyala terletak di tengah mesin itu. Aku bertanya, "Apakah Führer mengetahui hal ini?" Kemudian dijawabnya, "Iya, ia tak mau semua tentaranya tahu ini sehingga ia memercayakannya padaku." Aku ragu, William Huss hanyalah kapten barisan, ia tak mungkin dibebani untuk menggunakan senjata rahasia, bukan?

Namun, wajahnya menampakkan ekspresi serius. Aku tak berani mempertanyakan soal itu. Ia menyuruh lima belas orang itu mendorong mesin aneh itu. Krankheit, sepertinya namanya, mesin itu sepertinya pembawa penyakit.

Senjata mesin Soviet ditembakkan kearah kami. Dua diantara kami tewas tetapi Kapten Huss tetap menyuruh kami mendorong mesin itu. Ia mulai menyalakan mesin itu dan membidik kearah dimana senjata mesin itu ditaruh. Mesin itu kira-kira besarnya seperti meriam abad ke-18 sehingga agak sulit digerakkan oleh tenaga manusia.

"Tembak!" Seorang kopral muda menekan sebuah tombol dan sebuah cahaya besar mengarah ke tempat dimana pasukan Soviet menembakkan senjata mesin mereka.

Tidak ada ledakan seperti tembakan meriam pada umumnya. Tetapi senjata mesin itu tidak lagi ditembakkan. Pasukan Soviet yang tadinya menembakkan senjata mesin itu langsung tewas.

Kapten Huss tertawa girang. Ia menyuruhku menekan tombol merah di mesin itu dan membidiknya ke arah ratusan pasukan Soviet yang sedang berlari ke arah kami. Cahaya besar itu kembali keluar dan ratusan pasukan Soviet itu tergeletak tak bernyawa. Kami mengambil posisi bertahan dan mulai menembakkan senjata itu ke arah pasukan Soviet yang mengarah kemari.

Akhirnya kemenangan besar di pertempuran itu datang kepada kami. Kami tertawa bahagia demikian juga tentara Jerman lainnya. Kami senang hanya untuk sesaat sebelum pasukan Soviet itu bangkit kembali dengan mata merah. Merah menyala seperti iblis yang sedang kelaparan.

Mereka bangkit dan menuju ke arah kami. Mereka lebih cepat daripada BMW R12 yang pernah kukendarai pada waktu masih berlatih di akademi. Kami menembak mereka dengan senapan mesin kami dan setiap dari mereka yang tertembak masih dapat bangkit kembali. Demikian seterusnya sampai aku memutuskan untuk mundur. Kapten Huss berinisiatif menembakkan senjata itu sekali lagi sebelum akhirnya meledak akibat kepanasan. Ledakan cahaya terjadi. Untung saja, aku berdiri jauh dari sana. Kapten Huss dan beberapa tentara kini sudah menjadi seperti tentara Soviet itu. Bermata merah dan mengerikan.

Aku membuang senapanku dan berlari dengan cepat. Tapi mereka lebih cepat! Aku pikir aku akan mati namun tidak. Pasukan bantuan datang dan malahan mereka yang dikejar oleh monster itu. Aku selamat dan bersembunyi di sebuah rumah yang hampir hancur.

Aku melihat dengan jelas beberapa tentara Jerman berubah menjadi monster oleh mereka. Mereka tak bisa ditaklukkan! Setiap anggota tubuh mereka yang tertembak pulih kembali dan menjadi seperti semula. Kecuali bila ditembakkan di kepala, mereka akan meledak menjadi ledakan cahaya yang justru membuat beberapa orang terkena radiasi cahaya itu dan menjadi monster bermata merah itu.

Setelah semua usai. monster itu memasuki hutan belantara dan menghilang. Di pertempuran itu, hanya aku yang selamat. Aku tak bisa lagi kembali ke Jerman. Aku berjalan menuju pusat kota Stalingrad yang kini telah hancur lebur. Aku mengganti seragam menjadi seragam tentara Soviet yang aku ambil dari seorang tentara Soviet yang telah tewas. Aku bertemu seorang gadis Rusia dan akhirnya jatuh cinta kepadanya. Aku menikah dengannya.

Puluhan tahun setelah perang, yakni tahun 1970, aku sendiri sudah berumur 57 tahun. Aku kini tinggal di Moscow sebagai seorang Rusia. Aku tak berani menceritakan masa lalu ku karena takut ditangkap sebagai mantan tentara Nazi. Sehingga cerita tentang monster itu kupendam diam-diam. Hanya kepada isteriku, aku ceritakan semuanya. Ia menerimaku apa adanya.

Pagi itu, cuaca terasa sejuk. Beberapa polisi datang ke arahku dan mulai menangkapku. Identitasku sebagai tentara Jerman dulunya sudah terungkap. Namun mereka ternyata menangkapku bukan karena alasan itu.

Pihak Soviet baru saja menerima laporan beberapa petani yang tinggal di pinggiran Volgograd, kota yang dahulu bernama Stalingrad. Mereka melihat orang-orang bermata merah menyerang ternak mereka. Seorang petani juga menjadi korban keganasan monster itu. Lokasi itu adalah hutan belantara dimana aku melihat monster itu masuk dan menghilang.

Seorang tegap menginterograsiku. Mau tak mau harus kujawab semua. Mulai dari masa lalu sampai pada waktu aku melihat monster itu. Mereka tercengang. Seorang yang mengaku bernama Ulyanov masuk dan menyalamiku. Ia berjenggot tebal. Ia membawaku ke sebuah ruangan dimana hanya kami berdua ada disana.

Ia mengaku sebagai salah satu mata-mata yang pernah berada diantara kelima belas orang di dekat senjata aneh itu. "Aku mengenalmu, kawan." Ia tersenyum lalu keluar ruangan itu. Ruangan itu dipenuhi gas aneh, aku tak bisa bernafas dengan lancar.

Ulyanov mulai berbicara di speaker. "Kawanku, aku minta maaf. Tetapi ini harus dilakukan demi negara. Senjata aneh yang engkau lihat itu adalah senjata biologis. Virus bernama Titan von Germania ditanam dalam mesin itu. Virus ini menyerang otak dan menjadikan mereka lapar akan daging biologis. Tetapi kami harus mempelajari itu. Maafkan aku, kawanku, Thomas Kross."

Aku pingsan tak lama kemudian. Ingatan terakhirku hanyalah saat ia memanggil nama Jerman milikku.

Aku terbangun di sebuah lapangan. Jutaan bintang berada di langit. Aku telah berada di rumah, tepatnya halaman rumahku. Aku memasuki rumah dan menemukan istriku sedang memasak. Namun suatu hal yang aneh terjadi kepadaku. Aku tidak lapar akan masakannya. Aku lapar akan dirinya.

Untuk membaca cerita kelanjutan dari cerita ini, silahkan klik disini.

Sumber gambar : espeng.deviantart.com
Read more ...

Sabtu, 30 Mei 2015

Cerita Misteri - Black Nova

cerita misteri seram, cerita misteri, cerita misteri menegangkan
Cerita ini merupakan sekuel dari cerita misteri Gempa Bumi dan Neraka yang pernah dipublikasikan sebelumnya. Apabila Anda belum membaca cerita tersebut, silahkan baca disini.

Sebenarnya, susah untuk menjadi seorang peneliti yang berbakat. Butuh waktu bertahun-tahun untuk mencapai posisi puncak. Dan disinilah aku, masih berada di kelas bawah. Aku iri dengan Mr Tracker. Bagaimana tidak? Sainganku dulu di kelas biologi kini sudah menjadi pimpinan dari tim dimana aku berada didalamnya.

"Dasar bodoh, bisakah kau melakukan tugas sederhana itu?" Tracker terlihat cemas dan sedang memarahi seorang petugas magang. Tampaknya ia sedang sibuk. Aku menghampirinya dan bertanya, "Ada apa?" Jawabnya, "Pemerintah memberikan kita sebuah tugas khusus, sebuah proyek."

Proyek? Bebanku dalam hati. Sebelumnya tim ini masih amatir dan belum mengenal dengan apa yang dinamakan proyek. "Hey bung, kenapa harus tim ini?" Aku bertanya sinis, "Tidak tahu, tim lain sepertinya sudah dibagikan proyek lain. Proyek ini besar. Dalam militer, ini dinamakan Operasi Nova, operasi yang dilancarkan untuk penyembuhan cepat kepada tentara. Kau tahu, super soldier."

Ohh ya, sebelumnya saya lupa mendeskripsikan tim apa yang sedang aku masuki. Tim ini adalah satu dari 15 tim utama MMR, Military Medical Research, sebuah fasilitas yang digunakan untuk meneliti tentang cara untuk meningkatkan mobilitas dan kemampuan penyembuhan militer. Kami meneliti tentang obat yang bisa digunakan fleksibel di medan pertempuran. MMR dikendalikan pemerintah sepenuhnya.

"Operasi Nova adalah operasi masa depan. Produk yang dihasilkan dari operasi ini bertujuan untuk menciptakan proses regenerasi cepat untuk tentara yang sedang bertempur di garis depan. Masa depan militer telah tercipta!" Tracker berusaha memberikan penjelasan kepada tim kami, namun masih tampak keraguan dari anggota tim karena tim kami sebenarnya belum berpengalaman mengurus hal seperti ini.

Meskipun beberapa anggota masih ragu, Tracker memutuskan melakukannya malam ini. Bersama dengan tim lain, kami yang kerja lembur mengerjakan proyek ini. Berbagai bahan didatangkan dari pusat dan juga beberapa peneliti serta konsultan.

2 bulan telah berlalu dan produk tersebut masih tak tampak hasil. Produk regenerasi tersebut masih tak cocok dipakai manusia. Terakhir kali dipakaikan ke tikus bisa berhasil namun untuk manusia, sel darah manusia menolak zat itu sehingga sukarelawan itu berakhir koma.

Beberapa tim mulai putus asa. Beberapa sponsor dari perusahaan ternama telah mengundurkan diri dan menarik investasinya. Beberapa tim juga telah mengajukan pembatalan proyek. Padahal, untuk membuat produk seperti ini, para peneliti memprediksi hanya perlu 1 bulan saja mengingat teknologi yang dipakai di MMR.

Tracker masih memiliki harapan. Ia mengajakku ke ruang bawah tanah. "Manusia sangat unik," mulainya, "kita membutuhkan virus untuk membuat tubuh manusia menerima zat itu." Aku terkejut karena ia membuka pintu menuju ruangan virus. "Tunggu, Rick! Apa maksudmu?" Dia menatapku dan kembali berkata, "aku hanya tak mau proyek ini sia-sia." Aku berusaha meyakinkan dirinya namun ia tetap berkeras. "Percayalah padaku!" Katanya.

Hari itu telah tiba. Rick Tracker, pemimpin tim IV menginjeksi virus ke dalam produk Nova. Hasilnya mengejutkan! Virus itu membuat tubuh manusia menerima itu. Seorang sukarelawan yang memakainya tidak koma bahkan memiliki kemampuan regenerasi yang hebat. Ia dibuat luka namun sembuh dalam waktu 0,8 detik! Kami kini tertawa bahagia.

Pemerintah akhirnya menyetujui pembuatan Nova Light, nama dagang yang disetujui untuk produk Nova. Kami merayakan hal itu di Bar Resova, bar yang cukup terkenal di kota kecil kami. John Gamerton, salah seorang dari tim kami memakai produk itu. Ia kini memiliki proses regenerasi yang hebat. "Kau hebat! Gamerton!" Teriak salah satu dari kami. Namun, wajahnya mulai pucat. Ia permisi sebentar ke kamar mandi namun tak kembali dalam waktu yang lama. Kami masuk ke dalam toilet dan menemukan ia telah tewas.

Kami segera menelepon pusat dan mengetahui para sukarelawan juga sudah tewas. Kami terkejut. Tracker terlihat sangat bersalah. Aku mendekatinya dan berusaha memberikan semangat. Namun sebelum itu selesai, terdengar kegaduhan di kamar mandi. John yang sudah terbaring kaku mengeluarkan mata merah yang menyala. Ia kemudian bergerak-gerak.

"John?" Tanyaku. Seorang pelayan berusaha menyelamatkannya namun diterkam olehnya. Tak lama kemudian, pelayan itu juga berlaku agresif seperti dirinya dan mulai menerkam yang lain. Aku dan yang lain segera keluar. Bar itu menjadi merah menyala. Aku dan yang lain memasuki mobil. Hanya tersisa 3 dari kami, termasuk Tracker. Yang lain mungkin sudah menjadi seperti John. Kami kembali ke MMR dengan perasaan campur aduk antara rasa bersalah dan rasa takut.

Sesampainya disana, kami mendapatkan kabar yang lebih mengejutkan. Proses pembuatan Nova Light telah diambil alih perusahaan bernama Taxco dan diproduksi dengan cepat di Mayertown, kota kecil sejauh 100 km dari MMR. Perusahaan Taxco sama sekali belum menerima berita ini.

Sebenarnya, Nova Light masih belum sempurna. Produk tersebut bisa saja menjadi pedang bermata dua bagi pemiliknya. Sebelum kami sempat menghubungi perusahaan itu, kami menerima kabar bahwa telah terjadi gempa bumi yang hebat di Mayertown.

Semua penduduk tewas dan tak ada yang satupun datang ke posko pengungsian. Padahal pemerintah sudah mengingatkan bahwa akan ada terjadi gempa akibat erupsi Gunung Herton.

"Apakah gempa bumi akan berdampak pada Nova?" Tanyaku kepada Tracker. Dia terlihat bengong. "Hey! Aku bertanya padamu!" Aku membentaknya agar ia tersadar. Ia melihat sebentar lalu berkata, "Nova bisa menyebar melalui..." Dia berhenti sejenak, "udara".

Aku mengambil mobil dan langsung pergi ke Mayertown. 2 jam perjalanan ke sana hanya untuk melihat beberapa petugas posko sudah tewas dengan darah dimana-mana. Seorang lelaki bermata merah melihat ke arahku. Bersamaan dengan itu, para mayat petugas itu bangkit dengan mata yang sama. Aku membalikkan mobilku.

Tetapi semua dari mereka mengejarku dengan cepat. Bahkan mobilku tak sanggup mengimbangi kecepatan mereka. Aku menabrak mereka tetapi mereka tak bisa mati seperti zombie yang kulihat di tv kesukaanku. Mereka masih bisa berdiri.

Mereka memecahkan kaca dan mulai menyentuh tubuhku. Aku kira aku akan mati tetapi tidak! Aku akhirnya berhasil kabur dan kembali ke MMR. Aku memasuki MMR. Semua yang disana menatapku ngeri. Aku tak tahu apapun itu.

Aku melihat Tracker dan menuju ke arahnya. Rasa lapar itu menuntutku untuk memakan tubuhnya.

Untuk membaca cerita lanjutan dari cerita ini, silahkan klik disini.
Read more ...

Minggu, 12 April 2015

Jika Perang Dunia Pertama Adalah Perkelahian di Bar

Jerman, Austria, dan Italia sedang berdiri bersama di tengah bar ketika Serbia menabrak Austria dan menumpahkan minumannya ke Austria. Austria kemudian menuntut Serbia membeli pakaian baru karena noda bir yang melekat di celana. Jerman mendukung pernyataan Austria. Inggris menyarankan semuanya untuk tenang.

Serbia menyatakan tak mampu membeli seluruh pakaian yang diharapkan Austria tetapi memberikan tawaran untuk membersihkan celana Austria. Rusia dan Serbia melihat ke arah Austria. Austria bertanya kepada Serbia siapa yang sedang melihatnya.

Rusia menyarankan untuk meninggalkan saudaranya sendirian. Austria bertanya kekuatan mana yang hendak membantu Rusia dalam melakukan itu. Jerman membandingkan Inggris bahwa Prancis juga telah menatapnya, dan tak mungkin Inggris tak mencampuri urusan ini.

Inggris membalas bahwa Prancis boleh menatap siapa saja yang ia mau, dan Inggris juga sedang menatap Jerman, dan apa yang hendak Jerman lakukan?

Jerman berkata kepada Rusia untuk tidak menatap Austria atau Jerman akan membuat Rusia tidak berkutik. Inggris dan Prancis bertanya apakah Jerman juga menatap Belgia.

Jerman dan Turki pergi ke sudut dan membisikkan sesuatu. Saat mereka kembali, Turki berpura-pura tidak melihat siapapun. Jerman menggulung lengan bajunya, menatap Prancis, dan meninju Belgia.

Prancis dan Inggris meninju Jerman. Austria meninju Rusia. Jerman meninju Prancis dan Inggris dengan satu tangan dan Rusia dengan keduanya.

Rusia meninju Jerman namun gagal dan hampir terjatuh. Jepang berseru dari sisi lain dan berkata bahwa ia ada di pihak Inggris, namun tetap pada tempatnya. Italia mengejutkan semuanya dengan meninju Austria. Australia memukul Turki dan dihajar balik. Namun itu wajar karena Inggris yang mengendalikan Australia.

Prancis dilempari ke pecahan kaca namun bisa bangkit dan melanjutkan perkelahian. Rusia dilempari ke arah yang lain, pingsan, menderita kerusakan otak, dan bangun dengan kepribadian yang sudah berubah.

Italia meninju Austria namun meleset tetapi itu membuat Austria terjatuh. Italia mengangkat kedua tangan di udara dan berlari di ruangan dengan nyanyian.

Amerika menunggu Jerman jatuh akibat pukulan dari Inggris dan Prancis, kemudian datang dan menghantam Jerman dengan peralatan bar dan berpura-pura bahwa dia adalah pemenang tunggal dalam perkelahian tersebut.

Sekarang, kursi-kursi menjadi rusak dan cermin di sudut bar sudah retak. Inggris, Prancis, dan Amerika setuju bahwa Jerman yang pertama kali memulai perkelahian sehingga semuanya adalah kesalahan Jerman. Ketika Jerman belum bangun dari pingsan, mereka mengecek kantongnya, mencuri dompetnya, dan membeli minuman untuk teman-teman mereka.

Diterjemahkan dari : 9GAG
Read more ...

Minggu, 01 Maret 2015

Cerita Misteri - You Will Never Alone

Hari-hari begitu bahagia ketika mengetahui bahwa orangtua ku dari Chengdu akan membelikan sebuah rumah untukku di desa Hayashima, sekitar 1 jam perjalanan bus dari Tokyo. Ketahuilah, saya hanya seorang lajang dari daratan Tiongkok yang berusaha mencari nafkah di Jepang. Setelah lulus kuliah, saya bekerja di pabrik kain milik Tuan Ikada yang merupakan sahabat baik ayahku. Pabrik kain itu terletak di desa Hayashima dan saya terpaksa harus menumpang di rumah Tuan Ikada.

"Lin," ucap Tuan Ikada saat aku sedang menghitung uang di kantornya,"aku dengar orangtuamu akan membelikan dirimu sebuah rumah." "Iya, tentu saja, aku hanya ingin tidak menyusahkan Anda," ucapku dengan senyum. "Kalau begitu, aku mengucapkan selamat," ucapnya sembari pergi keluar. "Terima kasih banyak, Tuan!" Aku bergegas untuk pulang dan menyiapkan segala sesuatu yang harus kubawa ke rumah baru ku besok.

Keesokan harinya, Tuan Ikada dan putrinya, Ikada Mei dengan baik hati mengantar diriku ke rumah baru itu. Rumah baru itu terletak sekitar 15 menit perjalanan kaki dari pabrik Tuan Ikada. Aku keluar dan melihat sebuah rumah yang sederhana itu. Eksterior rumah tersebut memiliki desain hampir mirip dengan rumah semi-permanen yang pernah kulihat di acara televisi Amerika Serikat. Rumah itu dikelilingi oleh padang rumput luas dengan beberapa pohon besar di belakangnya. Jarak dengan rumah tetangga sekitar 5 menit perjalanan. Memang agak sepi tetapi cukup bagus untuk pegawai pabrik sepertiku. Aku mengucapkan terima kasih pada Tuan Ikada dan memasuki rumah tersebut.

Interiornya lebih bagus daripada yang ku duga. Desain klasik Jepang abad ke-16 dan dapurnya menggunakan konsep Eropa abad ke-20. Sungguh luar biasa!

Aku merebahkan diriku di tempat tidur dan ku biarkan pintu kamar terbuka agar udara bisa masuk. Aku pun tertidur. Setelah beberapa lama, aku terbangun dan melihat jam. Ternyata sudah pukul 5 pagi. Aku harus bersiap-siap ke pabrik untuk bekerja. Ku buka pintu kamar dan kemudian bergegas ke pabrik.

Untungnya, paman yang bekerja di kedai mi di depan pabrik kebetulan lewat di depan rumahku dan mengantar ku. Awalnya dia heran mengapa aku keluar dari rumah tersebut karena ia sendiri tahu bahwa aku tinggal di kediaman Tuan Ikada. Aku lantas menceritakan bahwa aku sudah tinggal disana. Wajahnya berubah pucat dan berkeringat. Aku heran dan ia hanya berkata tidak ada.

Aku sampai di pabrik dan bergegas ke kantor, melanjutkan pekerjaanku sebagai bendahara pabrik itu. Beberapa karyawan pabrik yang lebih senior melewati ku sambil mengucapkan selamat pagi kepadaku. Tetapi aku tahu bahwa mereka sedang menyembunyikan sesuatu, terlihat dari muka canggung dan keringat yang mengalir pada mereka. Tetapi aku bersikap apatis. Bukankah para orang tua memang memiliki banyak rahasia kepada orang muda seperti ku.

Hari kerja telah selesai dan aku pulang ke rumah dengan semangat. Berharap dapat menonton serial televisi yang menjadi favorit. Aku terperanjat ketika menemukan bahwa televisi milikku yang semula berada di ruang depan menjadi terletak di dekat dapur. Aku mengambil tongkat golf dan beranggapan bahwa seorang penguntit atau perampok telah berhasil memasuki rumahku. Tetapi hasilnya nihil, tidak ada barang yang hilang, hanya televisi yang berpindah tempat. Segera ku telepon polisi dan membiarkan mereka memeriksa rumahku. Mereka bilang tidak ada tanda-tanda perampokan dan sama sekali tidak ada sidik jari. Mereka akhirnya pergi dan membiarkan ku merinding ketakutan.

Aku duduk termenung di sofa dan masih memikirkan peristiwa tersebut. Aku berusaha memikirkan alasan logis mengapa televisi itu bisa berpindah tanpa ada yang menyentuhnya. Setelah sekian lama, aku masih belum dapat alasan yang tepat. Akhirnya, aku memutuskan untuk tidur di kamar.

Aku menyalakan radio. Alunan musik Jepang klasik berbunyi pelan membuatku semakin mengantuk. Jam berdetak dengan keras sebelum akhirnya semakin kencang. Alunan radio berubah menjadi statis, lebih terdengar seperti suara perempuan yang sedang tertawa. Tubuhku tak bisa digerakkan dan sesosok prajurit yang mirip tentara Amerika saat Perang Dunia II di film-film sejarah muncul membawa senapan mesin. Wajahnya berdarah-darah sebelum akhirnya menembakkan peluru dari senapan mesin miliknya ke arah ku. Aku terbangun. Itu hanya mimpi buruk.

Agar bisa mengurangi ketakutan, aku menyalakan radio dan musik Jepang klasik itu kembali mengalun. Ku lihat ke arah jam dan ternyata sudah pukul 7 pagi, aku sudah terlambat satu jam.

Aku berlari sepanjang jalan dengan tergesa-gesa sampai aku lupa mengunci pintu rumah. Aku akhirnya sampai ke pabrik. Tuan Ikada hanya menegur dan bertanya apakah gerangan.

"Tidak, Tuan. Aku bermimpi buruk semalam," ucapku terbata-bata. "Tidak apa-apa," ucapnya sembari melangkah keluar. Tingkah lakunya terlihat aneh. Aku melanjutkan pekerjaanku dan karyawan senior itu kembali mengucapkan selamat pagi kearah ku. Aneh, mereka dulunya tidak seperti itu.

Aku membuka kunci rumahku dan kembali menonton televisi. Acara televisi itu berjudul "American WW2" yang bercerita tentang Perang Dunia kedua dalam teater pasifik. Tiba-tiba televisi menjadi statis kemudian muncul kembali dengan wajah seorang prajurit Amerika. Aku terkejut karena wajah itu adalah wajah yang ku temui saat mimpi itu. Program televisi itu kembali berjalan seperti semula. Aku tak tahan lagi!

Aku segera ke kamar dan tidur lebih awal. Tetapi seperti ada sebuah kekuatan yang membuatku tetap terjaga. Saat itu sepi. Angin dari padang rumput masuk melalui ventilasi dan mendinginkan kamar sehingga hawa yang kuterima semakin mencekam. Tiba-tiba televisi di ruang depan menyala sendiri, diikuti dengan peralatan yang terpelanting sana dan sini. Aku sudah tak tahan lagi. Ada yang tidak beres di rumah ini.

Keesokan harinya, aku tak masuk kerja tetapi aku pergi ke Tokyo untuk berlibur. Aku memesan sebuah kamar hotel di distrik yang ramai di kota itu. Aku berada disana selama tiga hari dan tidak ada yang aneh selama aku disana. Sudah ku duga bahwa rumah itu tidak beres.

Hari ketiga di Tokyo, aku berusaha untuk tidur. Aku tak mau keluar untuk menikmati kehidupan malam disana. Udara dingin dari ketinggian lantai 10 hotel ini sungguh menyejukkan. Aku terbangun tatkala seseorang berbisik di telingaku, "pulang... pulang..." Aku menoleh ke kanan dan kiri. Tidak ada siapapun kecuali diriku sendiri.

Esoknya, aku keluar dari hotel tersebut dan bergegas pulang ke Hayashima. Aku masih memikirkan perihal suara aneh saat berada di hotel itu. Aku tak langsung ke rumah melainkan aku singgah terlebih dahulu di rumah Tuan Ikada. Putri Tuan Ikada membukakan pintu untukku. "Silahkan duduk," ucapnya manis. Aku duduk dan membaca koran yang terdapat di meja. Tak lama kemudian Tuan Ikada menghampiri ku.

"Lin-san, selamat datang kembali," ucapnya, "aku mengerti peristiwa yang menimpamu".

'Terima kasih, Ikada-san. Aku berusaha untuk tetap tenang," aku berusaha terlihat tegar.

"Kau membutuhkan seorang pasangan hidup," ia melirik ke arah putrinya.

Aku tersenyum sambil mengucapkan terima kasih padanya. Ikada Mei adalah sosok perempuan yang sudah lama aku cintai. Dan ayahnya baru saja memberikan ku lampu hijau.

Aku hanya berpacaran dengannya sekitar 1 tahun lalu kita menikah. Selama satu tahun kita bersama, hal-hal aneh tidak pernah kurasakan. Entah apa para arwah sudah mau mengganggu ku atau perasaan bahagia ku yang mengabaikan hal itu semua. Aku dan Mei menikah di gereja desa Hayashima. Aku melihat Tuan Ikada tersenyum bahagia.

Hari-hari berlalu dengan cepat saat bersamanya. Tetapi ada sesuatu yang aneh, yakni setiap subuh Mei selalu pergi ke ruang belakang rumahku. Aku tak mau bertanya kenapa karena takut ia kehilangan nyali.

Setelah beberapa bulan, gangguan itu kembali terjadi.

Tentara Amerika itu menjadi sangat sering masuk ke dalam mimpiku. Kemudian muncul lima sampai enam tentara Jepang dengan seragam perang era Perang Dunia II. Kemudian ada lagi beberapa orang yang berpakaian lusuh sambil membawa golok dan senapan. Lama kelamaan aku semakin tidak tahan. Istriku mendekati ku dan berusaha untuk menenangkan diriku, tetapi yang kulakukan adalah menampar wajahnya. Hal itu kulakukan tanpa sengaja. Serasa sebuah kekuatan mengendalikan ku dari dalam. Ia berteriak kepadaku dengan air mata bercucuran di matanya. Aku tak dapat menghentikannya.

"Engkau iblis!" Itu adalah kata terakhirnya sebelum meninggalkan rumah.

Aku kembali sendiri dan menyangka dirinya akan kembali. Tetapi setelah 5 hari, Mei tidak kunjung pulang bahkan aku sudah ke rumah Tuan Ikada untuk mencarinya tetapi ia tidak pulang ke rumah ayahnya. Akhirnya, aku mengerahkan seluruh penduduk desa untuk mencarinya. Mei berhasil ditemukan di hutan yang lokasinya sekitar 30 menit jalan kaki dari desa. Ia berusaha bunuh diri sebelum para penduduk desa menahannya. Aku memeluknya tetapi ia mendorong ku dan berteriak, "Siapa perempuan itu!" Aku bingung karena selain dirinya, aku tak berhubungan dengan wanita lain. "Sayang, ini salah paham! Aku bahkan tak pernah berbicara dengan seorang perempuan muda di desa ini selain dirimu," aku menenangkan dirinya tetapi Mei masih menangis. Beberapa penduduk desa melihat dengan mata kasihan kearah kami.

Aku membawa Mei pulang. Tetapi ia tidak mau berbicara kepadaku. Ketika aku memasuki rumah, posisi televisi kembali berpindah lagi. Apa yang terjadi di rumah ini? Aku sudah semakin penasaran tetapi aku masih belum berani menanyakan kepada tetangga sekitar karena takut ditertawakan.

Kehidupan kami begitu kacau saat itu, Mei selalu berusaha bunuh diri tetapi berhasil ku gagalkan. Ia menampar ku dan berkata bahwa ia melihat aku bercumbu dengan wanita lain di kamar. Aku terkejut bukan main, aku bahkan tak pernah mengenal wanita muda lain di desa ini selain dirinya.

Suatu hari saat aku sedang menonton televisi, aku melihat sesosok wanita berambut panjang yang merangkak di lantai. Wajahnya cantik jelita. Ia datang ke hadapanku dan berusaha mencium ku. Aku mendorongnya dan wajahnya terlihat marah. Wajahnya yang cantik jelita menjadi sosok yang mengerikan. Hancur dengan mata yang tidak ada. Dia menghilang setelah istriku pulang ke rumah. Istriku melihat ku dan ia kembali menangis. Ia kembali berkata bahwa aku bercumbu dengan wanita lain dan wanita itu kabur melalui pintu belakang. Aku terkejut bukan main dan berusaha memberitahu dirinya semua. Mulai dari tentara Amerika, Jepang, sampai dengan orang-orang yang membawa golok dan senapan.

Sejak saat itu, istriku selalu terlihat ketakutan. Ia bahkan mengaku melihat pria yang berusaha untuk menidurinya. Aku sudah tidak tahan akan hal ini sehingga aku mengajak seorang paranormal yang cukup terpandang di Hayashima.

"Rumahmu sangat aneh. Setan itu tetap ingin di rumahmu. Aku tak mau mengusir mereka. Tidak!!!" Paranormal itu terjatuh dan langsung terkena serangan jantung. Kami berusaha membawanya ke rumah sakit namun terlambat, paranormal itu telah tewas.

Hari-hari ku lewati dengan Mei yang selalu berteriak saat ia melihat sesuatu. Aku juga selalu melihat tentara itu. Kadang tentara itu muncul sekilas, kadang juga bertahan lama berdiri di sudut ruangan. Kemudian muncul lagi sesosok kepala yang melayang-layang tanpa badan. Kadang juga ada makhluk yang membawa kepalanya sendiri.

Aku pulang dari kerja dan merebahkan diriku di sofa. Aku memanggil Mei berkali-kali untuk membawakan ku minum tetapi tak ada jawaban. Aku merasa aneh dan memeriksa kamar. Aku terkejut, ketakutan, dan sedih di waktu yang bersamaan. Mei bunuh diri dengan cara menggantung dirinya sendiri. Tertulis sepucuk surat kematian yang hanya bertuliskan, "Engkau tak mencintaiku lagi, engkau iblis yang berhasil membunuhku!" Aku menangis sedih dan beberapa tetangga datang karena penasaran mengapa aku menangis begitu kencangnya. Mereka juga ikut terkejut dan beberapa orang yang tua disana saling berbisik-bisik.

Pemakaman Mei dilakukan dengan lancar siang itu. Beberapa tetangga mengucapkan belasungkawa kepadaku. Aku masih sedih mengingat Mei yang kuharap menjadi pendamping hidupku malah berakhir dengan tragis. Rasa takut ku serasa menjadi kemarahan saat itu. Aku masuk ke rumah dan berteriak dengan tidak jelas.

"Dasar arwah bodoh! Kalian baru saja membunuh seseorang yang sangat ku cintai! Dasar bodoh! Bila aku di dunia kalian, akan kubunuh dan kubiarkan kalian reinkarnasi menjadi babi dan anjing paling terkutuk!" Aku berteriak dengan emosi yang sudah tidak dikendalikan.

Tiba-tiba pintu rumahku dibanting dengan keras. Kulihat sosok yang sepertinya ku kenal. Itu Tuan Ikada! Dia terlihat sangat marah. Tuan Ikada masuk kemudian berteriak, "Kau sudah membunuh anakku!" "Ikada-san, itu hanya salah paham," aku berusaha meyakinkan dirinya. "Mengapa kau bercumbu dengan wanita itu?" Dia memukul ku tepat di wajah. Aku tersudut di sudut rumah.

Bersamaan dengan hal itu, aku melihat wanita yang merangkak di lantai saat itu. Kemudian tentara Amerika dan Jepang itu serta beberapa orang yang membawa golok dan senapan. Di belakang mereka semua, kulihat Mei dengan mata kosong menangis. Ia sama sekali tidak mempunyai mata.

Aku kabur melalui pintu belakang. Tuan Ikada dan para arwah itu mengejar ku. Aku berlari sampai rumah Tuan Asano, tetanggaku.

"Ada apa?" ucapnya.

"Tolong ceritakan kepadaku tentang rumah itu," aku tak peduli lagi.

Ia tertunduk dan mulai bercerita, "Aku tahu aku tak bisa menyembunyikan ini semua. Rumah itu berhantu karena rumah itu adalah kuburan!" Aku terkejut bukan main.

Ia melanjutkan, "Setelah Perang Dunia II, beberapa orang Jepang yang tidak terima membunuh seorang tentara Amerika yang bertugas disini. Akhirnya terjadi perang yang menewaskan enam orang tentara Jepang dan semua pemberontak yang menyebabkan kekacauan tadi di eksekusi. Beberapa dipenggal."

"Kemudian," lanjutnya,"mayat orang yang terbunuh itu dikuburkan di tanah ini termasuk seorang wanita yang ikut menjadi korban bejat dari pemberontak itu. Mereka dikuburkan dengan massal. Pemilik tanah tak mau mengambil resiko dengan memberitahu sejarah kelam tempat ini sehingga ia menjual rumah itu dengan murah."

Aku menjadi kaku saat mendengarkan ceritanya. "Wanita itu menyukaimu," ucapnya. Aku terkejut, "mengapa kau bisa tahu?" Ia mengambil beberapa foto kuno dan menunjukkan kepadaku. Seorang yang mirip wajah wanita yang pernah kulihat itu dengan seorang laki-laki yang mirip denganku, iya memang sangat mirip denganku. "Ini adalah foto paman dan bibi ku, wanita yang terbunuh itu adalah bibi ku, saudara perempuan ayahku, suaminya berasal dari daratan Tiongkok bermarga Lin," dia melanjutkan, "Ia mungkin merasa dirimu sangat mirip dengan suaminya sehingga ia menyukaimu. Itulah yang mungkin membuat istrimu sering melihat dirimu bercumbu dengannya."

Aku merebahkan diriku di sofa. 'Aku harus mengatakan hal ini kepada Tuan Ikada," ucapku tiba-tiba. Aku melihat wajah Tuan Asano berubah, ia terlihat sangat terkejut. "Tuan Ikada?" ucapnya dengan ketakutan, "bukankah ia sudah meninggal?"

Aku tiba-tiba lemas mendengar hal itu. "Tidak mungkin!" aku masih tidak dapat percaya. "Apakah kau tak ingat?" lanjutnya,"Tuan Ikada menuliskan di surat wasiatnya agar kamu menjadi pemilik pabrik itu. Bahkan aku melihat beberapa senior mengucapkan selamat pagi sambil menunduk di hadapanmu. Kau juga yang telah mengizinkan putrinya memakamkan Tuan Ikada di rumahmu saat kau memutuskan untuk menikahi putri Tuan Ikada!"

Aku tak sanggup berkata lagi. Aku akhirnya tahu mengapa Mei selalu pergi ke ruang belakang saat subuh. Ia melanjutkan, "Apa yang terjadi denganmu sampai kau begini?" Aku menatap dirinya dengan takut. Aku bahkan sudah takut melihat manusia.

Beberapa jam kemudian aku sudah sadar. Aku memutuskan menjual rumah ku dan pulang ke Chengdu. Aku menjual seluruh isi rumah itu. Pengangkatan jenazah dilakukan dan dimakamkan di tempat yang layak. Makam Tuan Ikada dipindahkan ke samping makam Mei. Aku pun mendapatkan kabar mengapa televisi ku selalu berpindah sendiri. Beberapa orang yang sudah lama tinggal di Hayashima mengatakan bahwa tentara Jepang yang pernah bertempat disini senang menonton televisi. Mungkin saja tentara Jepang yang tinggal di rumah itu suka dengan televisi milikku.

Setelah semua urusan selesai, aku pulang ke Chengdu. Aku bertemu orangtua ku dan saudariku. Aku memutuskan untuk memulai kehidupan baru.

Semua peristiwa ini membuatku sangat lelah. Aku merebahkan diri di tempat tidur. Saat aku memejamkan mata, kudengar sebuah bisikan pelan, "Engkau tidak akan pernah sendiri."

Sumber gambar : imgur.com
Read more ...

Sabtu, 27 Desember 2014

Cerpen Misteri : Funeral - Pemakaman

Paman ku baru saja meninggal tadi malam akibat serangan jantung. Kaget akibat berita ini, keluargaku segera pergi ke Kentucky saat ini juga. Aku juga serta dibawa. Begitu sampai di kota kecil tempat paman ku dimakamkan, Keluargaku langsung menuju pemakaman Smile Hill. Keluarga paman terlihat bersedih. Tangisan terdengar sangat ramai waktu itu. Bagaimana tidak ? Paman baru berumur 30 tahun. Aku melihat jenazah kaku paman sebelum menyadari dia tersenyum kepadaku sambil membuka mata kemudian menutup mata ketika peti ditutup. Aku terkejut dan segera berlari ke orang tua ku. Aku menyadari semuanya tersenyum dengan mata yang sama sekali tidak berkedip. Aku berubah takut dan peti mati paman ku terbuka dan menarik ku masuk ke peti tersebut.
+++++
Kakak ku baru saja meninggal tadi pagi akibat serangan jantung. Dia tiba tiba jatuh saat pemakaman paman ku. Ayah dan ibu ku menangis sedih disertai keluarga paman ku. Pemakaman kakak ku dilakukan hari itu juga di pemakaman yang sama. Tangisan terdengar sangat ramai waktu itu. Bagaimana tidak ? Kakak baru berumur 10 tahun. Aku melihat jenazah kaku kakak sebelum menyadari dia tersenyum kepadaku sambil membuka mata kemudian menutup mata ketika peti ditutup. Aku terkejut dan segera berlari ke orang tua ku. Aku menyadari semuanya tersenyum dengan mata yang sama sekali tidak berkedip. Aku berubah takut dan peti mati kakak ku terbuka dan menarik ku masuk ke peti tersebut.
+++++
Sepupu ku baru saja meninggal tadi pagi akibat serangan jantung. Dia tiba tiba jatuh saat pemakaman kakak sepupu dan ayah ku.
Read more ...

10 Creepypasta Dua Kalimat


Sebagai seorang yang hobi membaca cerita Creepypasta dan misteri maka saya tertantang untuk membuat beberapa Creepypasta pendek dengan dua kalimat saja. Karena ini adalah buatan sendiri maka saya tidak mengetahui seram atau tidak cerita yang tersaji di bawah ini.

This is the real short stories.

Berikut 10 Creepypasta Dua Kalimat


  1. Semakin banyak yang datang ke rumahku waktu itu untuk menikmati santapan yang kemarin aku bawa dari panti asuhan.
  2. Aku tertawa sebelum menyadari bahwa mulutku telah dioperasi minggu lalu.
  3. Aku berterima kasih kepada teman sekamar ku yang telah membantu ku meraih nilai sempurna dalam ujian otopsi.
  4. Aku datang ke rumahnya dan bermaksud melamarnya. Tetapi ia menolak dan kini aku berada di kuburannya.
  5. Aku melihat dia memasak di dapur dengan wajahnya yang cantik. Sebelum akhirnya dia kembali ke ruang tamu dengan muka yang kosong.
  6. Aku datang ke rumah seseorang yang pernah dituduh kanibal. Tetapi saat dia memberikan ku makan, aku sadar itu bukan daging manusia.
  7. Seekor singa terlepas dari kebun binatang yang dekat dengan sekolah dan sekolah tersebut segera meliburkan 11 muridnya. Besoknya, 10 siswa orang datang ke sekolah dengan perasaan lega.
  8. Temanku bermain game selama 48 jam dan berhenti saat requiem dijalankan di gereja.
  9. Paman ku tersenyum kepadaku di pemakaman nya,
  10. Aku tertarik dengan boneka bayi itu. Katanya itu didapat dari model asli.
Read more ...

Senin, 22 September 2014

Cerpen - Supir Taxi dan Wanita Tua


Catatan Penulis :

Cerita sedih dan menginspirasi ini saya dapatkan di 9gag.com, sebuah situs gambar-gambar lucu tetapi kadangkala ada member yang mengirimkan cerita-cerita sedih dan menginspirasi. Selain ceritanya yang dapat mengalirkan air mata, cerpen ini juga sangat menginspirasi. Terutama menginspirasi kita bahwa hidup ini memiliki berbagai keindahan di dalam apa yang orang lain pikirkan sebagai hal yang remeh. Selamat membaca!

Ada suatu saat di dalam hidupku dimana aku mengendarai taksi untuk kehidupan di kota New York, tempat dimana banyak hal yang gila terjadi. Tetapi tidak ada yang mempersiapkanku untuk malam dimana aku menjemput seorang wanita dan dia memulai berterima kasih kepadaku.
Aku sampai di alamat tujuan dan membunyikan klakson. Setelah menunggu beberapa menit aku membunyikan klakson sekali lagi. Karena ini adalah shift terakhir, aku lebih baik meninggalkannya, tetapi malah aku memarkirkan mobil dan turun untuk mengetuk pintu. "Sebentar" Jawab suara lemah, suara orang tua. Aku bisa mendengar sesuatu diseret sepanjang lantai.

Setelah beberapa lama, pintu terbuka. Seorang wanita berumur 90'an berdiri di hadapanku. Dia memakai gaun cetak dan topi kotak pil, dengan kerudung disematkan diatasnya. Seperti di film-film 1940'an.

Disampingnya tergeletak sebuah tas nilon kecil. Apartemennya terlihat seperti tidak ditinggali selama bertahun-tahun. Semua perabotan ditutup dengan kain.

Tidak ada jam di dinding, tidak ada pernak-pernik dan peralatan di meja. Di sudut hanya ada kardus berisi foto-foto dan barang pecah belah.

"Maukah kamu mengambil tas saya ke mobil ?" Dia berkata. Aku mengambil tasnya ke dalam taksi dan kembali untuk mengantarnya.

Dia meraih lenganku dan kami berjalan perlahan melewati trotoar.

Dia terus berterima kasih atas kebaikanku. "Tidak apa-apa" Kataku kepadanya, "Aku hanya memperlakukan penumpangku seperti halnya aku memperlakukan ibuku."

"Oh, kamu sungguh anak yang baik" katanya. Setelah kita masuk ke dalam taksi, dia memberikanku alamat dan kemudian bertanya, "Bisakah kamu melewati pusat kota ?"

"Itu bukan jalan yang cepat" Aku menjawabnya dengan cepat.

"Oh, saya tidak keberatan" Katanya. "Saya sedang tidak terburu-buru. Saya dalam perjalanan menuju perawatan."

Aku melihatnya melalui kaca spion dalam mobil. Matanya berkaca-kaca. "Aku tidak punya keluarga lagi" Dia melanjutkannya dengan nada yang rendah, "Dokter bilang hidupku tidak akan lama lagi". Aku segera mematikan meteran.

"Rute apakah yang kamu ingin aku lewati ?" Tanyaku.

Selama dua jam, kami mengelilingi kota. Dia menunjukkan kepadaku sebuah gedung dimana dia pernah bekerja sebagai petugas lift.

Kami melewati lingkungan dimana dia dan suaminya pernah tinggal sebagai pasangan baru menikah. Dia juga membawaku menuju gudang perabot yang dulunya adalah aula dimana dia berdansa sebagai seorang gadis.

Kadang dia menyuruhku untuk perlahan di depan sebuah gedung tertentu atau simpang dan dia akan duduk menatap ke dalam kegelapan, tanpa berkata-kata.

Setelah sinar matahari tampak di cakrawala, dia tiba-tiba berkata, "Aku lelah. Ayo pergi." Kami pergi dengan kesunyian menuju alamat yang ia berikan. Itu adalah bangunan yang rendah, seperti rumah pemulihan kecil, dengan jalan yang lewat di bawah serambi.

Dua perawat datang ke taksi segera setelah kita sampai. Mereka tertib dan sungguh-sungguh, melihat segala pergerakannya. Mereka pasti sudah menunggunya.

Aku membuka bagasi dan mengambil tas kecil itu ke pintu. Wanita tua itu sudah ditempatkan di kursi roda.

"Berapa banyak aku berutang kepadamu ?" Dia bertanya, memasukkan tangannya ke dalam tas.

"Tidak ada" Kataku.

"Kamu harus mencari nafkah" Jawabnya.

"Masih ada penumpang lain" Responku

Hampir tanpa berpikir terlebih dahulu, aku membungkuk dan memeluknya. Dia memegangku erat.

"Kamu memberikan seorang wanita tua sedikit kebahagiaan" Katanya, "Terima kasih".

Aku meremas tangannya, dan berjalan menuju samar-samar cahaya pagi. Di belakangku, pintu ditutup. Itu adalah suara penutupan sebuah kehidupan.

Aku tidak mengantar penumpang lagi selama shift tersebut. Aku mengendarai tanpa tujuan dan kehilangan akal. Selama hari itu, aku susah untuk berbicara. Bagaimana jika wanita tua itu mendapat seorang supir yang sedang marah, atau seorang yang tidak sabar untuk segera mengakhiri shiftnya ? Bagaimana jika aku menolak mengantarnya, atau membunyikan klakson sekali, kemudian meninggalkannya ?

Pada tinjauan singkat, Aku tidak berpikir bahwa aku telah melakukan sesuatu yang lebih penting dalam hidupku.

Kita dikondisikan untuk berpikir bahwa hidup kita berputar di sekitar momen yang besar.

Tapi momen besar sering menangkap kita tidak menyadari keindahan dibungkus dalam apa yang orang lain mempertimbangkannya sebagai hal yang kecil.

Sumber : 9gag.com

Diterjemahkan oleh : Daniel Lim
Read more ...

Minggu, 07 September 2014

Pendidikan Indonesia dalam Fabel

Ada beberapa alasan mengapa saya membuat post ini. Seperti yang kita lihat bahwa sebenarnya Pendidikan di Indonesia sangatlah "bobrok" bila dibandingkan dengan metode pendidikan di negara lain. Karena itulah, ada baiknya saya mengumpamakan Pendidikan Indonesia dengan kisah fabel di bawah ini :

Alkisah di sebuah hutan, berdirilah sebuah sekolah khusus binatang. Ada beberapa "murid" disana yang menjadi pusat perhatian. Mereka ialah Elang, Kuda, Bebek, Tupai, dan Ikan. Ada 5 mata pelajaran penting di sekolah binatang itu. Mata pelajaran itu ialah Terbang, Berlari, Berenang, Memanjat, dan Menyelam. Elang mempunyai kemampuan yang luar biasa dalam mata pelajaran "Terbang", Kuda memiliki kemampuan hebat dalam "Berlari", Bebek mahir dalam "Berenang", Tupai cekatan dalam "Memanjat", dan Ikan terampil saat "Menyelam.

Tetapi kemudian datanglah sebuah Kurikulum baru dimana semua binatang harus bisa menguasai seluruh mata pelajaran agar bisa lulus. Dengan terpaksa, Elang belajar Berlari, Berenang, Memanjat, dan Menyelam. Demikian juga binatang lainnya, mereka harus bisa menguasai mata pelajaran yang tidak sesuai dengan mereka.

Setelah satu semester, tidak ada yang bisa lulus. Bahkan Elang sudah lupa cara terbang, Kuda terlalu lemah untuk berlari, Bebek lupa cara berenang, Tupai kehabisan tenaga karena jatuh dari pohon beberapa kali hanya untuk terbang, dan Ikan tewas karena terlalu lama berada di daratan.

Demikianlah fabel diatas, apakah anda menemukan kesamaannya dengan metode Pendidikan Indonesia ? Saya sebagai seorang pelajar sebenarnya tidak setuju dengan metode pendidikan di Indonesia, terutama metode yang kini dituang dalam Kurikulum 2013. Sebenarnya ada poin-poin yang saya suka dalam Kurikulum 2013 seperti proyek, praktek, dan lain sebagainya. Tetapi sayang, poin-poin yang saya harapkan ternyata tidak terjadi. Buktinya, PR menumpuk dan pekerjaan kreatif di blog saya terhambat. Bagaimana Indonesia bisa kreatif ? Dan terakhir, saya hanya bisa mengkritik kebijakan pemerintah lewat tulisan ini.

Saya berterima kasih kepada saudari Siska Mumtaz atas ide dan inspirasinya dan saya berterima kasih bagi pembaca yang ingin meluangkan waktunya untuk berkomentar dan memberikan pendapat. Di kolom komentarlah dimana demokrasi tercipta.

Sumber gambar : www.parent24.com
Read more ...

Rabu, 09 April 2014

Cerita Misteri : The Ocean Mystery


Desingan peluru, dentuman bom yang dilepaskan pesawat pembom membuat arena pertempuran menjadi mengerikan. Ribuan mayat prajurit yang tewas untuk negaranya berserakan dimana-mana. Pasukan Kekaisaran Jepang telah dikalahkan. Jenderal MacArthur benar-benar sangat lihai dalam mengatur taktik. Tidak ada jalan lagi, kita harus kembali ke Jepang.

Aku dan 4 tentara lainnya segera berlari ke pantai kemudian menaiki kapal nelayan yang terdampar disana. Kabuto, seorang tentara berpangkat tamtama yang jago dalam menerjemahkan berbagai bahasa menerima siaran radio bahwasannya Kekaisaran Jepang telah menyerah tanpa syarat kepada Sekutu setelah para Sekutu melepaskan bom atom menuju kota tempatku tinggal, Hiroshima.

Air mata segera keluar dari mataku. Ayah, ibu, nenek, kakek, adik, terutama Yuri, kekasih tercinta. Apakah mereka sudah tiada ? "Matsuo, mengapa kau bersedih ? Ayolah, kita akan kembali ke Jepang. Berbahagialah bahwasannya kamu selamat dari perang ini." Takeshi berusaha menenangkanku, "Keluargaku mungkin telah mati, mereka telah membom kotaku. Tidak ada gunanya aku kembali ke Jepang, lagipula kita tidak akan berhasil ke Jepang ddengan kapal nelayan ini." Tiba-tiba Nobuyaki, seorang mantan preman yang dipaksa menjadi tentara berkata, "Aduhh, sebentar lagi kita akan bertemu pasukan Jepang dengan kapal besar seperti Musashi. Kita akan selamat. He he he."

5 hari telah berlalu, untunglah didalam kapal tersedia beberapa makanan sehingga kami masih dapat bertahan hidup. Aneh, tidak ada kapal yang mengunjungi kami padahal Kabuto sudah berusaha mengirimkan sinyal ke seluruh arah. "Ohh, semoga ada kapal yang datang. Kapal Sekutu pun gak apa-apa, aku mau bertemu keluargaku." Kabuto memohon-mohon kepada dewa laut yang dipercayainya.

Tiba-tiba terdengar jeritan dari dalam kapal, Nobuyaki terkapar dengan mata terbelalak menjerit tolong. "TOLONG! Jangan bunuh aku!" Setelah itu, Nobuyaki diam dan Takeshi memeriksa nadinya. "Dia sudah mati!" Apa yang terjadi dengannya ?

Kabuto mengusulkan agar mayatnya dibuang ke laut tetapi teman baiknya yang bernama Kano memohong agar dia dibawa dan dimakamkan di Jepang. Takeshi menerima usul itu dan manaruh mayat Nobuyaki di bagian terbawah kapal.

10 hari kemudian, makanan di kapal telah menipis dan tidak ada pilihan kami untuk kami selain memakan mayat Nobuyaki. Meskipun Kano menolak usul itu, dia akhirnya menerima usul itu. Tubuh Nobuyaki yang telah membusuk memberi kami waktu 10 hari lagi.

Masih tidak ada kapal yang menemui kami. Dan yang paling aneh, kami tidak pernah melihat daratan. Kano yang sudah sangat putus asa menggantung dirinya di bagian bawah kapal. Tidak ada pilihan bagi kami lagi selain memakan tubuh Kano.

10 hari kemudian, kami sudah seperti monster. Kami tidak menyadari bahwa sama sekali tidak ada ikan di lautan tetapi kami sudah sangat kehilangan akal sehat. Takeshi membunuh Kabuto dan membagikan tubuhnya kepadaku. Itu memberi kami waktu 10 hari lagi dan aku tahu bahwa ketika hari itu sudah datang, aku harus bertarung dengan Takeshi.

Hari pertarunganku dengan Takeshi sudah dimulai. Dia mengambil pisau dapur kearah dan dengan mudah aku menangkis meski tanganku harus terluka berat karena itu. Akhirnya aku berhasil mematahkan leher Takeshi dan membunuhnya. Lalu aku memakannya seperti orang gila.

Setelah itu, hanya aku sendiri yang tersisa. Aku memakan sepatu bahkan kayu agar bisa bertahan hidup. Akhirnya setelah beberapa bulan mengapung di air, aku melihat daratan. Aku segera turun dan menemukan sebuah kota yang tidak kukenal tetapi aku yakin itu pasti Jepang. Gedung pencakar langit bertebaran dimana-mana.

Aku pergi ke pusat kota dan menemukan banyak orang dengan pakaian yang aneh berlalu-lalang. Aneh, mereka menghiraukanku. Aku menganggap wajar karena aku mengira itu adalah budaya mereka.

Seorang pemuda melihat kearahku. Aku menyapanya, "Maaf, tapi kota apa ini ?" Dia menjawab, "Ini Tokyo." Aku kembali bertanya, "Mengapa berbeda ?" Dia melihat penuh tanda tanya kearahku, "Ini tahun 2014, aku rasa tidak ada yang salah."

Apa ? 2014 ? Apakah aku tersesat dalam waktu dan menemukan diriku di jaman modern ini ? Aku melihat sekeliling, Jepang benar-benar berubah di masa depan. Aku mengira Jepang akan menjadi negara miskin karena dibom selama 2 kali. Luar biasa. Tapi sayang, orang Jepang sekarang sangat sombong.

Aku berjalan menuju sebuah gedung, Hey! Aku bisa menembus dinding! Teknologi yang sungguh luar biasa!
Read more ...

Selasa, 08 April 2014

Cerita Misteri : Lemari Rahasia

Sudah lama aku memerhatikan sebuah lemari usang yang telah lama menghiasi rumahku. Letaknya berada di basement, entah mengapa orangtuaku selalu menyuruh aku untuk jangan mendekati apalagi membuka lemari itu. Aku berusaha mencari alasan tetapi mereka tetap menjawab dengan satu pernyataan saja, "Bila kau membuka lemari itu, kau akan mati!".

Kini aku sudah lulus dari SMA Ichigo dan melanjutkan ke universitas Tokyo. Salah satu alasan mengapa aku memilih universitas di Tokyo karena banyak gadis cantik disana dan tentu saja, dekat dengan rumahku sehingga aku tak perlu menyewa rumah lagi.

Hari-hari kulewati dengan biasa tetapi rasa penasaranku semakin memuncak, itu membuatku tidak nyaman sehingga suatu ketika aku hendak membuka lemari itu tapi sayang, orangtuaku terbangun dan dengan cepat aku mengurungkan niatku karena takut akan amarah mereka.

Beberapa minggu setelah kejadian ini, aku bertemu Misuka, seorang gadis cantik dari Osaka yang memutuskan melanjutkan kuliah di Tokyo. Dia mulai berteman denganku semenjak aku berhasil memperbaiki laptopnya yang rusak. Ia semakin dekat kepadaku dan pada satu hari yang tak kuduga, dia menyatakan cintanya kepadaku.

KIta akhirnya resmi berpacaran tetapi kita tidak pernah lagi berkencan di rumah karena Misuka pernah hampir membuka lemari itu. Amarah sang ayah dan ibuku membuat Misuka trauma. Tetapi untunglah dia masih mau berpacaran denganku meski agak takut juga.

Hari-hari terlewati dengan sempurna antara kami berdua. Suatu hari, orangtuaku pergi untuk mengunjungi kakekku yang meninggal kemarin sehingga aku tinggal sendiri. Aku mengajak Misuka untuk menginap di rumahku karena aku merasa sendirian ( aku agak takut juga kalau sendiri ). Lagipula rumah sewaan Misuka sedang mengalami renovasi.

Pada hari ketiga sejak orangtuaku pergi, rasa penasaran kembali muncul dan kini mulai sangat memuncak. Aku ditemani Misuka segera pergi ke basement, Misuka memegang erat tanganku. "Aku takut!" Misuka akhirnya memutuskan untuk naik keatas dan aku berdiri di hadapan lemari tersebut. Dengan perasaan yang sangat takut sekaligus dipenuhi penasaran, selang beberapa menit kemudian aku membuka lemari tersebut, dan jantungku seakan berhenti.

Dua tubuh manusia yang sudah membusuk disana, kepala mereka sudah menjadi tengkorak dan tubuh mereka mulai tersisa tulang. Aku tersungkur. Dua manusia itu terdiri atas satu lelaki berjas dan satu perempuan dengan baju kimono. Tiba-tiba terdengar ketukan pintu, aku menyadari itu adalah orangtuaku. Segera aku naik keatas ( aku sudah melupakan Misuka ) dan membuka pintu. Disana hanya ada ayah!

"Ayah, dimana ibu ?" Tanyaku dengan cemas, "Ibu ? Bukankah dia di rumah ?" Aku terkejut tetapi tiba-tiba aku dipukul dari belakang dan langsung pingsan.

Samar-samar aku melihat sebuah tubuh perempuan, tergantung dengan darah yang mengucur dimana-mana serta bergoyang kearah kanan dan kiri. Pelan-pelan aku sadar, tubuh perempuan itu adalah Misuka yang sudah tak bernyawa. Lehernya ditusuk dengan kait yang sangat tajam kemudian digantung. Aku menangis, "Misuka... Misuka" tetapi dia tidak menjawab.

Tiba-tiba pintu terbuka, 2 orang yang selama ini kukenal sebagai ayah dan ibuku datang membawa sebuah pisau dapur berukuran besar. Seakan aku adalah kambing yang hendak dipotong. "Hai, kurasa kamu sudah membuka lemari itu dan seperti yang pernah kami katakan, kau akan mati. Ohh iya, kau sudah bertemu orangtuamu!"
Read more ...

Selasa, 04 Februari 2014

Cerita Misteri - Gempa Bumi dan Neraka

     Gempa! Gempa! Itulah hal pertama yang kudengar saat terbangun di pagi hari. Kurasakan ranjangku bergoyang dengan hebat. Terlihat di luar rumah beberapa orang tertimpa reruntuhan rumah mereka bahkan ada yang tewas seketika. Aku pun berlari keluar rumah dengan piyama yang masih kupakai tanpa peduli lagi semua barang yang masih ada di rumah seperti TV, Laptop, dan lain sebagainya. Aku masih bisa membeli mereka tetapi aku tidak akan bisa membeli lagi nyawa ini.

     Aku ikut berlari bersama ratusan orang di jalanan, terlihat suasana yang sangat mengerikan disana. Banyak korban berjatuhan, tewas dengan kepala terbelah, organ berceceran, bahkan ada tubuh yang terpisah setelah dihantam beton yang sangat berat. Aku berinisiatif untuk mengambil sebuah jalan lain dan aku sangat beruntung, apabila aku tetap berlari bersama mereka di jalan tersebut maka aku pasti sudah akan mati ditimpa sebuah papan reklame yang berukuran besar itu.

     Pilu dan perasaan menyakitkan muncul di batinku. Aku tidak bisa terus melihat mereka apabila aku ingin selamat. Kini, aku merasakan getarannya sudah lebih besar. Teriakan warga yang ketakutan juga semakin banyak. Bummm.... Sebuah pabrik meledak dan menewaskan lebih banyak orang lagi. Tempat ini sudah seperti neraka. Aku kembali berlari dengan pasrah, pasrah untuk menjadi salah satu korban dari bencana dahsyat ini. Sebuah gedung 50 lantai yang menjadi landmark kotaku runtuh dan mengenai para warga yang sudah separuh jalan menyeberangi sungai untuk ke posko pengungsian. Aku kembali selamat. Namun keadaan menjadi sepi. Tidak ada lagi isak tangis, hanya ada mayat yang bernasib malang.

     Kini hanya aku sendiri yang selamat. Aku berbaring di sebuah reruntuhan tanpa peduli lagi mayat yang ada di kanan-kiriku. Aku tertidur di samping sebuah mayat wanita yang pernah sebelumnya kukenal, ia adalah Michella, pacar pertamaku yang kuputuskan setelah 5 bulan berpacaran. Tapi sudahlah, aku sama sekali tidak peduli.

     Kembali kudengar langkah orang-orang berlari, apakah tim evakuasi telah datang? Ketika kubuka mataku, tidak ada orang, hanya ada keheningan malam, dan tentu saja, mayat. Aku tertidur cukup lama bahkan sudah boleh dibilang sudah sangat lama. Kini, pikiranku mulai kembali terbuka. Aku mendengar langkah orang-orang berlari saat mulai tersadar dan suara tersebut menghilang saat aku membuka mata dan kembali tdk ada orang. Jadi, apakah yang kudengar itu?

    
     Aku menoleh ke samping. Dimana Michella? Tidak mungkin, dia sudah mati, aku bisa melihat itu. Bola matanya keluar dan sebelah mukanya hancur, terlalu gila untuk memungkinkan dia masih hidup. Mukaku berubah menjadi pucat. Apakah mayat itu kembali hidup? Aku menggelengkan kepala agar tidak berpikir yang tidak-tidak.

     Ketika otakku masih berusaha untuk berpikir secara logis, tiba-tiba terdengar suara ledakan di sebuah gudang yang berada 10 meter dari tempatku sekarang ini. Apakah ada kebocoran gas? Aku segera pergi dari tempat itu. Aku harus cepat menuju posko pengungsian. Sebenarnya, pemerintah sudah menyiapkan posko pengungsian menyusul laporan akan terjadinya gempa karena letusan gunung berapi yang berkekuatan besar. Tetapi warga menolak karena mengira gempa yang akan terjadi hanya sedikit menimbulkan keresahan. Tetapi tidak ada waktu lagi memikirkan hal itu, aku harus pergi ke posko pengungsian sebelum tenagaku habis.

     Aku berjuang melewati reruntuhan yang sudah menyelumuti kota tempat aku tinggal. Keheningan malam tidak membuatku takut meski aku melihat sesosok mahkluk bermata merah di depanku, ya kira-kira 5 meter di depanku. Karena waktu itu semua penerangan sudah lumpuh maka aku tidak akan melihat jelas sosok apa itu sebenarnya. Dia hanya diam, kupenjamkan mataku dan dia menghilang. Apakah itu hanya halusinasi dari otakku yang sudah tidak bisa berpikir normal lagi? Hawa dingin sudah semakin menusuk dan akhirnya aku menyadari bahwa aku hanya memakai piyama. Dalam kegelapan, aku melihat sebuah mayat pria dengan jaket dan kaos yang bagus. Tubuhnya tidak terluka tetapi wajahnya dihantam baja dengan ujung yang tajam. Aku mengambil bajunya.

     Malam semakin larut, bahkan bulan dan bintang bersembunyi entah dimana. Kurasakan sebuah gerakan dibelakang, aku menoleh dan sesosok mata merah muncul kembali dan sekarang tidak hanya ada sepasang mata tetapi ratusan mata. Mereka seakan mengejarku dan tidak ada pilihan yang terbentang di hadapanku selain lari dengan cepat. Kulihat sebuah gedung yang setengah hancur dan kumasuki. Mereka sudah berhenti, ya mereka hanya berdiri menatap gedung tempat aku bersembunyi. Cara mereka berdiri yang kaku cukup membuatku takut. Hanya mata mereka yang bersinar. Aku tidak bisa berdiri disini terus, aku harus ke posko! Aku mengambil inisiatif untuk berlari. Namun mereka terus mengejar! Mata merah itu terus mendekat. Aku tak peduli lagi, aku harus selamat! Sebuah tembok besar didepan menghadangku.

     Mata merah itu telah menghilang. Digantikan sosok mayat berjalan dengan tubuh tak lengkap. Aku tak percaya apapun itu. Itu hanya ada di dalam acara tv membosankan! Mayat hidup itu mendekat ke arahku. Aku berteriak. Berusaha untuk menyelamatkan diri dari mereka.

     Cakar salah satu mayat itu menyentuhku. Aku kira aku akan menjadi bagian dari mereka. Ternyata tidak, aku hanya terluka. Jadi aku tak takut lagi! Aku menembus mereka dan melarikan diri. Aku terus lari menuju posko. Fajar akhirnya muncul. Posko pengungsian itu kosong dan hanya ada beberapa petugas medis. Aku berlari menuju mereka. Namun aneh, bukan rasa aman yang kucari, namun hasrat untuk memakan daging mereka.

Original story by : Daniel Lim

Untuk membaca kisah kelanjutan dari cerita ini, silahkan klik disini.
Read more ...

Kamis, 02 Januari 2014

Cerita Romantis : Pergi dan Tidak Kembali


Arloji sudah menunjukkan pukul 08.00. Aku terlambat! Ini adalah hari pertamaku pergi kesekolah baruku. Aku masuk kelas dan berkenalan dengan beberapa teman baru. Mereka ramah sekali dan aku senang dengan mereka. "Bro, lu kan murid baru disini, kan ? Bagaimana kalau nanti kita ke mall. Kerjaan anak SMA, bro." Temanku Drono yang gemuk mengajakku disertai dengan anggukan kepala temanku yang lain, "Benar itu." Sambung Andi. Aku hanya bisa mengiya-iyakan.

Aku tertegun bagaikan melihat emas yang siap diberikan kepadaku secara cuma-cuma. Ya, seorang gadis cantik dengan langkah kecil masuk ke kelasku. "I.. i.. itu, siapa ?" Tanyaku kepada Pedro, orang menyebutnya pakar cinta. "Ciee, jatuh cinta ada pandangan pertama ya." "Mana ada, namanya siapa ?" "Namanya Freela, orangtuanya berasal dari Jawa Barat serta memiliki keturunan chinese." Aku tersenyum kepadanya dan ia membalas dengan senyuman kecil pula.

Teng... teng... teng... Lonceng tanda sekolah selesai sudah berbunyi, saatnya untuk berkenalan dengannya. Perlahan kudekati dia, "Hai" dia tersenyum, "Hai juga." "Namaku Michael, kau cantik ya." Kukira dia akan kesal tetapi dia tetap tersenyum, senyuman yang manis, "Namaku Freela, terima kasih." Aku semakin dekat dengannya. Hari demi hari kulewati dengannya. Tetapi ia mengatakan bahwa ia tidak ingin berpacaran sebelum kuliah. Aku setuju dengan hal itu. Tak terasa waktu begitu cepat. Aku sudah tamat SMA. Temanku sudah berpencar entah pergi ke universitas mana tetapi kami tetap terhubung baik di facebook maupun hp. Freela berencana kuliah di Boston.

Sebelum dia pergi, aku menembaknya dan ia menerimanya dengan senang hati. Dia pun berangkat dan aku masih di Indonesia. Untung saja pamanku tinggal di Amrik sehingga kadang-kadang aku dapat pergi ke Amerika dengan alasan berjumpa dengan paman. Tidak lupa aku pergi ke Boston dan bertemu Freela. Dia sangat senang, begitu dengan saya. Bahkan kita berikrar akan pecaran sampai menikah. Setelah aku pulang ke Indonesia, kita berpacaran dengan metode LDR.

++++++

Michael yang baru mengenal tentang cinta sepertinya tidak menyadari bahwa dia tidak akan pernah bertahan dengan cintanya itu. Freela yang jauh dengannya, rindu dengannya dibalas oleh Michael dengan sangat kejam yakni Michael berselingkuh dengan wanita lain. Itu adalah tahun ke-3 masa pacaran Freela dan Michael dan waktu itu, Freela menelopon Michael yang sebenarnya sudah tidak mempunyai perasaan cinta kepadanya. "Halo." Ucap Michael ketika mengangkat telepon, Freela begitu senang mendengar suara kekasihnya, "Sayang, ini Freela. Saya rindu padamu. Kamu disana baik-baik kan? Jangan nakal ya. He he." "Freela, aku ssedang sibuk. Jangan menelepon bila kau hanya berucap seperti itu. Ingat itu!" Hati Freela sakit ketika dibentak Michael, "Tapi aku mencintaimu, Mike." Mata Freela mulai berkaca-kaca, "Aku sayang kamu jugaa, tetapi saya lagi sibuk." Telepon ditutup Michael tanpa menghiraukan perasaan Freela sedikitpun. Sebenarnya Michael tidak sibuk dengan pekerjaanya, ia sibuk berpacaran dengan kekasih lainnya.

Freela berjalan di taman dan ia melihat sebuah brosur bertuliskan,
AYO BURUAN!!!
Tiket Murah ke Indonesia
Hanya $200
Dapatkan segera!!!
Freela begitu senang apalagi dia menyedari bahwa di kantongnya cukup untuk pergi ke Indonesia kembali, bertemu dengan Michael. Ia pun mendaftar dan keesokan harinya ia pergi ke bandara. Ia tidak memberitahu Michael sebelumnya untuk memberinya sedikit kejutan. Berbekal uang dan alamat rumah yang diberikan Michael kepadanya 4 bulan lalu, ia pun berangkat. 5 jam kemudian ia sampai di Indonesia. Di kota Bandung, Freela berusaha mencari alamat itu dan akhirnya ia berhasil menemukan sebuah rumah kos.

Dia mencari Michael dengan seksama tetapi tidak menemukannya. Ibu kos berkata bahwa Michael keluar rumah dengan seorang "perempuan". Freela mengambil pemikiran positif dan menunggu Michael. Jam sudah menunjukkan pukul 10.00 malam dan Freela masih menunggu. Seorang pria datang dengan seorang perempuan. Freela terkejut, rasanya ia tidak mau hiduo lagi. Pria itu adalah Michael bersama dengan seorang wanita dengan mesra. Freela mulai menangis tetapi ia berusaha tersenyum. "Hai, Michael." Terlihat jelas di muka Michael bahwa ia terkejut, "Siapa itu, sayang ?" Gadis itu bertanya, tanpa basa-basi lagi, Michael mendorong gadis itu ke kosnya. "Mengapa kau datang kesini!" Michael membentak Freela, "Aku hanya ingin memberimu kejutan, sayang!"

"Kejutan atau kau cuma mau cari masalah. Dengar ya, gue gak punya duit. Lu pasti cuma mau liburan dan akhirnya aku yang bayar semua kan!" "Tidak, sayang!" "Bohong!" Michael menampar Freela tepat di pipi kiri, menimbulkan bekas merah yang besar. Hati Freela hancur seketika. "Pergi sana, perempuan jalang!" Freela dengan langkah yang sudah bahkan tidak mampu melangkah normal meninggalkan rumah itu. Seebelumya ia mendengar percakapan antara Michael dan selingkuhannya, "Siapa cewek itu ?" "Dia cuma adik perempuanku yang tidak berguna." "Ohh ya, cantik gitu gak berguna, sayang sekali."

Meski sudah disakiti seperti begitu, Freela adalah gadis yang religius sehingga dia tidak ingin berusaha bunuh diri. Freela tetap sayang kepada Michael. Ia tidak mempunyai rumah di Bandung. Beruntung ada teman baiknya yang mau menerimanya tinggal di rumahnya. Keesokan harinya, Freela membeli arloji bagi Michael. Dengan langkah kecil Freela menuju rumah kos Michael. "Hai, bu. Michael ada ?" Tanya Freela kepada ibu kos yang saat itu sedang menyapu, "Ehh kamu gadis kemarin kan ? Michael menamparmu dan kamu masih mau datang." Freela tertunduk, "Michael keluar dengan perempuan itu lagi. Mending kamu pulang saja, nak. Nanti kalau kamu dipermalukan seperti kemarin bagaimana ?"

"Tidak, bu. Aku masih sayang sama dia." 'Gadis sepertimu sangatlah kasihan. Tinggalkan dia saja, nak. Masih banyak cowok lain di dunia ini." Freela hendak pulang dan dia  terus berpikir, sekarang dipikirannya hanya satu, Michael. Tiba-tiba Freela melihat Michael bersama wanita itu kembali. Michael terkejut melihat Freela datang kembali. "Hey, perempuan jalang! Siapa suruh kamu datang kembali! Pergi sana!" Michael mendorong Freela ke jalan. Di saat bersamaan, sebuah truk melintas dan menabrak Freela sampai tak berbentuk. Mayat Freela berceceran dimana-mana. Michael syok melihat peristiwa itu. Dengan cepat, Ia meninggalkan tempat itu karena takut dituduh melakukan percobaan pembunuhan.

Polisi dan beberapa petugas rumah sakit datang ketempat itu. "Kasihan sekali wanita ini. Mukanya sudah hancur dan tidak ada yang bertanggung jawab." Kata seorang petugas rumah sakit sambil memungut satu per satu tubuh Freela yang tercecer dimana-mana. Jalan itu penuh dengan darah Freela yang harapannya tidak pernah terlaksana.

5 bulan kemudian, Michael putus dengan selingkuhannya karena ternyata wanita itu hanya memanfaatkan Michael. Michael sudah jatuh miskin dan ia menyesal dengan sangat karena telah mengabaikan Freela yang dengan tulus mencintainya. Jenazah Freela sudah dipulang ke Boston karena keluarganya berada disana. Michael pun berangkat ke Boston hendak berziarah ke makam Freela.

Setelah sampai, Michael langsung pergi ke pemakaman. Dia menangis tersedu-sedu disama seraya menyesali sikapnya. Di depan batu nisan itu, Michael mengambil sebuah cincin pernikahan yang pernah ia beli 2 tahun lalu dengan maksud melamar Freela di kemudian hari. Dia meletakkan cincin itu di makam Freela. Dia beranjak pergi.

Michael masuk ke mall untuk menukar uang di money changer. Seorang pria tak dikenal masuk ke mall itu dan menembaki para pengunjung sebelum ia menembak dirinya sendiri. Sial sekali, Michael terkena tembakan itu tepat di kepala sehingga nyawanya tidak mampu diselamatkan lagi. Michael meninggal dengan tersenyum dengan maksud bahagia yakni bertemu Freela di dimensi lain. Keluarga Freela akhirnya mau mengakui mayat Michael karena mereka mengetahui bahwa Michael adalah pacar Freela. Michael dimakamkan di samping Freela. Musim gugur menemani kebersamaan mereka, mengubur cerita yang sebenarnya tidak diketahui oleh keluarga mereka masing-masing.
Read more ...

Rabu, 25 Desember 2013

Cerpen Misteri : Taxi

Tidak terasa sudah 5 tahun saya menjadi supir Taxi. Gajiku ? Tidak bisa mencukupi kebutuhan keluarga sehingga saya memilih tetap bekerja dulu ketimbang menikah dengan anak orang yang belum tentu dapat kubahagiakan. 5 tahun sudah berlalu semenjak saya lulus kuliah tetapi apa daya ketika mengetahui bahwa hanya satu pekerjaan yang bisa kukerjakan yakni sebagai supir taxi yang menyedihkan ini.

Kring... kring... kring... Telepon genggam berbunyi di tengah perjalanan pulangku. "Halo, ini siapa ?" "Saya membutuhkan taxi sekarang." Yang saya dengar hanya suara seorang perempuan dengan suara serak "Di jalan mana ya ?" Tidak ada suara apapun, hening "Halo?" "142 Clerkwood" Telepon ditutup. "Aneh kali penumpang ini." Gumamku dalam hati.

Akhirnya aku sampai ke 142 Clerkwood. Disana hanyalah terdapat apartemen tua yang kumuh. Seorang perempuan separuh baya menghampiriku. "Apakah anda yang tadi meneleponku /" Jawabnya hanya disertai anggukan kepala misterius. Jujur, aku tidak percaya hantu tapi mengapa hawa dingin ini sangat membuat bulu kudukku berdiri. "Mau kena mana ya ?" Dia tidak menjawab tetapi menunjuk lurus kedepan.

Aku mengendarai lurus saja dan saat sampai di persimpangan, dia menunjuk kiri dan aku hanya mengikutinya. Jalan itu sangat panjang, tidak ada belokan. Tetapi yang membuatku heran ialah semakin aku melewati jalan itu, maka semakin gelap pula. "Anda mau kemana ?" Dia masih diam. Aku mulai merasa ketakutan. Tiba-tiba semua gelap, seakan duniaku hanya didalam taxi saja. "Ada apa ini ?" Aku mulai panik dan akhirnya kulihat mukanya. Tatapannya tajam, wajahnya memerah, dan dia seakan ingin membunuhku.

Dia mendekatiku dan akhirnya semua gelap, kini kurasa diriku melayang. Bagaikan di buku dongeng, aku sudah berada di sebuah rumah, rumah kuno. Aku terkejut saat melihat kalender. 15 Agustus 1947 ? Apakah saya kembali ke masa lalu ? Kekuatan apakah ini ? Aku menjelajahi rumah itu. Kulihat sepasang suami istri, istrinya aku kenal. Dialah yang menjadi penumpangku tadi! Darahku seakan membeku. Bagaimana mungkin seorang wanita dari tahun 1947 masih hidup dan menjadi penumpangku ?

Pikiranku tiba-tiba hilang ketika sepasang suami istri itu bertengkar. "Kau perempuan gila!" "Mengapa denganmu! Kau hanya menyia-nyiakan cinta kita!" "Memang benar! Aku tidak cinta lagi kepadamu! Kau hanya penghalang! Mana emas sialan itu!" Pertengkaran itu sangat sengit. "Bunuh aku! Sekarang!" Sang suami mendorong istrinya dan mengambil sebuah pistol di lacinya kemudian menembaknya. Aku terkejut, suaminya mungkin merasa bersalah dan akhirnya pergi meninggalkan rumah itu.

Tiba-tiba semua gelap sementara dan akhirnya kusadari, aku masih berada di rumah itu tetapi pada tahun yang berbeda yakni tahun ini alias masa kini. Rumah itu kini telah ditinggalkan. Aku melangkah ke lantai 2 dan masuk ke kamar tidur disana. Sebuah kertas kecil dalam bahasa spanyol tergeletak di atas tempat tidur itu, demikian isinya
Él me mató, mi dinero todavía en esta casa
Por favor, recuperar mi dinero y las daré a mi hermana
No se lo digas a nadie
La casa de mi hermana está a 167 Tamborine 47
Mi nombre es Clara Brown
Untung saja saya bisa sedikit bahasa spanyol karena ayahku sendiri adalah imigran spanyol. Bila diterjemahkan maka akan menjadi,
Dia membunuh saya, uang saya masih di rumah ini
Silakan kembalikan uang saya dan berikan kepada adikku
Jangan bilang siapa-siapa
Rumah adikku berada di 167 Tamborine 47
Namaku ialah Clara Brown
Akhirnya aku tahu mengapa dia membawaku kesini, dia ternyata tahu aku bisa bahasa spanyol. Aku mencari uang itu dengan senter tua yang sudah kusam. Berbekal cahaya sedikit dari senter itu, aku menjelajahi rumah itu. Menyeramkan, itulah kata yang bisa menggambarkan perasaanku sekarang. Kucari dengan teliti. Dari dapur sampai ke basement aku mencari uang yang dimaksud. Akhirnya di basementaku menemukan sebuah karung, ketika kubuka aku terkejut. Itu bukan uang tetapi emas. Bisa saja kuambil tetapi aku takut dengan hantunya. Aku keluar dari rumah itu dan menuju keluar. Ternyata taxiku masih ada, tanpa lecet sedikitpun.

Keesokan harinya, aku menuju 167 Tamborine 47. Rumah itu sangat mewah. Aku mengetuk pintu dan seorang perempuan tua yang berusia sekitar 90 tahun keluar. "Ada apa, anak muda ?" "Apakah anda mengenal Clara, Clara Brown ?" Mukanya terlihat terkejut. "Kemarin aku bertemunya di 142 Clerkwood." Perempuan tua itu menjawab "Bukankah itu adalah kompleks pemakaman." Aku terkejut, bagaimana mungkin apartemen kumuh yang kulihat ternyata adalah kuburan ? "Dia menyuruhku menyerahkan ini kepadamu nyonya." Aku menyodorkan karung berisi emas itu kepadanya, dia tersenyum "Memang betul kau ini anak mudanya."

Dia mempersilahkanku masuk dan menyuruhku duduk. Ia menceritakannya kepadaku "Dulu, kakakku menikah dengan kapten anti-tank dan berperang melawan Jepang pada saat Perang Dunia II. Dia sangat kejam. Suatu hari, dia meminta kakakku menyerahkan emas pemberian mendiang orangtuanya. Kakakku menolak sehingga dia membunuh Clara. Dia berusaha mencari emas itu tetapi tidak didapatkannya begitu pula dengan polisi yang mencari harta itu. Harta itu tetap misterius. Clara datang kepadaku malam kemarin, katanya ia menyuruh seorang anak muda untuk menyerahkan emas itu dan ternyata itu kamu." "Aku senang bila anda senang, nyonya." Perempuan tua itu tersenyum tetapi senyumannya kini terlihat menakutkan.

"Dia juga berkata, aku akan mendapat santapan malam ini."
Read more ...

Contact Us

Nama

Email *

Pesan *

Jangan Lupa Kalo Memang Suka Like Aja !!!

×

Powered By CLUSM and Skyzone GC

Tentang CLUSM

Blog CLUSM menyediakan informasi terbaik untuk Anda. Ingin lebih dekat dengan CLUSM? Silahkan kirimkan pesan Anda di Facebook CLUSM.
Designed By Blogger Templates